Derita Warga Surabaya Korban Tragedi MH17 Malaysia Airlines

 

Derita Warga Surabaya Korban Tragedi MH17 Malaysia Airlines
Charles Tamtelahitu (65) diapit keponakannya.

Di antara 280 penumpang korban tragedi MH 17 Malaysia Airlines menyisahkan duka mendalam bagi keluarga besar Theo Lekatompessy di Surabaya. Pasalnya, di saat ibunya, Agustinus Lekatompessy meninggal, kakaknya, Charles Tamtelahitu (65), ternyata tercatat ke dalam daftar penumpang MH17 Malaysia Airlines yang dirudal separatis di perbatasan Ukraina dan Rusia, Kamis (17/7/2014).

Di sela-sela proses pemakaman ibunya, Theo bersama keluarga besarnya terlihat sangat terpukul lantaran kehilangan dua orang yang mereka sayangi. “Kakak saya itu sejak kecil baik. Dia pekerja keras,” urainya kepada enciety.co, Jumat (18/7/2014).

Pengusaha sekaligus dosen di Universitas Airlangga Surabaya itu mengaku mendengar berita kecelakaan pesawat MH17 Malaysia Airlines Kamis malam dari kantor berita CNN. “Saya mendengar melalui berita. Bahwa ada kecelakaan (pesawat),” akunya.

Merasa khawatir, Theo kemudian memastikan apakah pesawat yang jatuh tersebut sama dengan pesawat yang ditumpangi kakaknya. “Kebetulan saya punya teman di Malaysia Airlines. Saya tanya, ternyata benar MH17 Malaysia Airlines mengalami kecelakaan,” katanya.

Malam itu juga, Theo mendapatkan telepon dari Malaysia Airlines di Jakarta, menjelaskan kepadanya bahwa kakaknya, Charles menjadi satu di antara penumpang nahas lainnya.

“Kemungkinan kecil sekali ada yang selamat. Tapi kami masih menunggu konfirmasi secara langsung dari Malaysia Airlines,” harapnya.

Pria yang bermukim di kawasan Jalan Manyar Kertoarjo 7/7, Surabaya tersebut menyerahkan semua proses pemulangan Charles kepada Malaysia Airlines. Seperti yang diketahui pesawat dengan rute Amsterdam ke Kuala Lumpur Malaysia itu jatuh dan pihak terkait kecelakaan pesawat jenis Boeng 777 tersebut.

Sementara itu, di kalangan keluarga besarnya, Charles dikenal sebagai orang baik dan pekerja keras. Pria dua anak itu sukses menjadi consult enginering di Belanda itu.

“Dulu ketika di Surabaya, bapak (Charles ) orangnya baik,” tutur Tini pembantu keluarga Theo.

Sambung Theo, kronologi itu dimulai saat Theo memberi tahu kabar kepergian ibunya. Theo pun berencana pergi melayat ke Indonesia bersama kedua anaknya. “Namun justru pesawat Garuda Airlines penuh. Jadi kakak beralih ke tujuan MH 17 Malaysia Arilines,” kenangnya.

Setelah memesan tiket ke penerbangan tujuan kuala lumpur itu hanya menyisakan satu tiket saja. ”Akhirnya Charles saja yang berangkat. Sedangkan kedua anaknya ditinggal,” ceritanya.

Ternyata, keberangkatan Charles Tamtelahitu untuk menjumpai ibunya berujung maut. Pesawat yang ditumpanginya dirudal oleh separatis di kawasan perbatasan Ukraina. Sementara tercatat setidaknya 11 WNI yang turut menjadi korban MH17 Malaysia Airlines. (wh)