Deret Waktu: Kolak, Pisang dan Puasa

Deret Waktu: Kolak, Pisang dan Puasa

Unung Istopo Hartanto, peneliti senior Enciety Business Consult.

Selepas adzan Maghrib, dzikir dan doa menyambut hadirnya Ramadhan terdengar saat menunggu iqomah dikumandangkan. Sangat menyentuh dan menyadarkan. Bahwa waktu adalah sebuah deretan, urutan yang sangat teratur. Bergerak dari detik ke menit, dari menit ke jam dan dari jam ke hari. Waktu pula yang menandai perpindahan bulan dari Rajab ke Syaban dan dari Syaban ke Ramadhan. Bulan penuh kemuliaan.

Hadirnya momen bulan Ramadhan menggerakkan ekonomi lokal. Bukan hanya peningkatan konsumsi, namun dorongan berbagi melalui sedekah, infak dan zakat akan meningkat drastis. Pola konsumsi yang bergeser waktunya, dengan pembuka tajil, membuat banyak kreasi olahan makanan dan minuman ringan disajikan. Tak terkecuali kolak. Kolak atau kolek adalah makanan asal Indonesia berbahan dasar pisang atau ubi jalar yang direbus dengan santan dan gula aren (wikipedia).

Big data yang dikelola Google dan bisa diakses bebas menampilkan hasil pencarian kata kunci “kolak” mulai tahun 2004 hingga 2021 membentuk pola deret waktu (time series) yang unik. Distribusi kata “kolak” memperlihatkan paling banyak dicari pada bulan Ramadhan. Mempelajari pola musiman pada kalender hijriah ini sangat menarik.

Hasil penelitian almarhum Dr Suhartono, S.Si, MSc pada 2006 dengan judul “Calender Variation Model for Forecasting Time Series Data with Islamic Calender Effect” memberikan simulasi yang cukup kuat bahwa data musiman yang dipengaruhi oleh kalender Hijriah tidak valid dan robust apabila menggunakan model pendekatan peramalan klasik (seperti model Winter’s, Decomposition dan ARIMA). Model Variasi Kalender yang dikenalkan oleh Dosen Time Series ITS ini makin banyak menjadi acuan dan berkembang dalam ribuan penelitian deret waktu lain terkait konsumsi dan inflasi pada bulan Ramadhan hingga hari ini. Di mana bulan Ramadhan tidak selalu jatuh pada bulan yang sama setiap tahunnya pada kalender Masehi.

Hasil penelitian tersebut telah memberikan ruang, untuk kita mampu merencanakan dan menghitung risiko di masa mendatang dengan lebih baik. Bukan hanya cerita soal menu buka puasa ataupun penjualan komoditas tertentu. Hasil karya akademik ini juga akan memperkuat dasar bagi produk dan industri halal untuk lebih tepat merencanakan dan membangun kerangka bisnis dalam koridor ekonomi Islam, khususnya pada momen-momen di bulan Hijriah.

Perencanaan tentu tidak hanya mendasarkan pada teknik analisis univariat, yaitu teknik analisis data terhadap satu variabel secara mandiri, di mana tiap variabel dianalisis tanpa dikaitkan dengan variabel lainnya. Namun penting juga untuk melakukan analisis bivariat, analisis yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel. Bahkan menurut almarhum Drs Kresnayana Yahya MSc dalam berbagai kesempatan foresight brief pada team datamining enciety Business Consult maupun diberbagai seminar, selalu mengingatkan urgensinya teknik analisis multivariat. Teknik analisis statistik dengan melakukan pengolahan variabel dalam jumlah banyak, untuk mencari pengaruh variabel-variabel tersebut secara serentak.

Hal ini pula yang mendasari untuk mencoba menambang data Google lagi dengan memasukkan pencarian kata “pisang” yang identik dengan “kolak”. Meskipun kita tahu, tidak semua kolak berbahan pisang ataupun tidak semua pisang digunakan untuk kolak.

Distribusi kata kunci “pisang” memiliki distribusi deret waktu trend, menunjukkan kenaikan jumlah pencarian mulai 2004 hingga 2021.  Hal ini juga tercermin dari berbagai sumber bahwa trend ekspor dan konsumsi pisang di Indonesia meningkat sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Ragam penganan terbuat dari pisang sangat banyak.

Hubungan antara dua variabel (bivariat) kata “kolak” dan “pisang” memberikan banyak pelajaran. Ada pola musiman (seasonal) dan trend yang makin utuh sebagai acuan perencanaan. Tentu dunia industri dan bisnis memiliki data dan kata kunci yang lebih strategis dan kompleks, tidak sesederhana dua kata ini.

Akhirnya, puasa memberikan makna penjernihan hati, pikiran, sebagai pengendali. Menguji seberapa kuat variabel-variabel (multivariat) pendukung pengendalian ini memberikan dampak pada diri melalui pola keteraturan waktu yang sama, menuju takwa. Puasa juga memberikan tanda dan ritme bahwa pada bulan inilah terjadi lompatan dan lonjakan kebaikan. Kenaikan aktivitas yang tentunya memberikan berkah bagi semuanya. Lompatan-lompatan deret waktu, yang diharapkan ke depannya, tidak lagi hanya musiman (seasonal) saja. Namun juga sebuah peningkatan (trend) kebaikan, setelah ditinggalkan Ramadhan.

Pun kehidupan merupakan deret waktu (time series), memiliki pola keteraturan, trend dan ragam musiman. Data dan fakta itu memberikan banyak hikmah, bahwa Statistika sangat dekat dengan kehidupan kita. Tokoh Statistika Indonesia, almarhum Dr Suhartono, S.Si, M.Sc dan almarhum Drs Kresnayana Yahya, Msc,  dua dosen ahli deret waktu ini, telah banyak memberikan inspirasi. Bahwa belajar Statistika bukan hanya untuk mencapai nilai, meraih kelulusan, kebutuhan gelar, namun lebih pada menguatkan agar kita memahami bahwa cara dan filosofi berpikir Statistik, adalah cara untuk belajar hidup yang benar, toleran dan memberikan manfaat. Karena ketidakpastian dan keragaman adalah sebuah keniscayaan. Salam. (*)

* Terima kasih Bapak Kresnayana Yahya dan Bapak Suhartono atas ilmu yang telah diberikan, insya Allah senantiasa akan memberikan pencerahan di masa mendatang.