Deputi Menko Maritim Puji Dwelling Time Bisa Kurang 4 Hari

Deputi Menko Maritim Puji Dwelling Time Bisa Kurang 4 Hari
foto: enciety.co

Isu dwelling time kembali bergema dan membuat Satgas Penurunan Dwelling TimeKementerian Koordinator Bidang Maritim berkunjung ke Terminal Teluk Lamong untuk mencari solusinya. Didampingi langsung oleh Deputi bidang koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa, Agung Kuswandono, rombongan datang pada Selasa (27/10/2015).

PT Terminal Teluk Lamong dianggap terminal petikemas percontohan di Indonesia dengan waktu tunggu singkat karena menggunakan fasilitas dan peralatan canggih semi otomatis. Terminal Teluk Lamong juga layak disandingkan dengan terminal lain di luar negeri.

“Indonesia memiliki terminal bertaraf internasional yang dapat melayani seluruh kapal domestik dan internasional dengan cepat dan tepat,” ujar Agung.

Direksi PT Terminal Teluk Lamong turut mendampingi kunjungan tersebut beserta dengan Balai Karantina dan Bea Cukai Pelabuhan Tj. Perak. Agung Kresno Sarwono, Direktur Operasional &Teknik Terminal Teluk Lamong, menjelaskan bahwa dwelling time yang terjadi selama proses operasional di Terminal milik PT Pelindo III (Persero) tersebut hanya memakan waktu kurang dari  4,7 hari dengan waktu tunggu nol hari atau zero waiting time.

Seluruh kegiatan yang berhubungan dengan pengurusan dokumen dan pembayaran telah tersistem secara online sehingga Terminal Teluk Lamong dapat membantu mengurangi dwelling time.

“Saya yakin dwelling time di Terminal Teluk Lamong bisa kurang dari 4 hari, karena proses online yang telah dilakukan serta pelayanan 24 jam setiap hari dan menurut saya ini the best,” tambah Agung Kuswandono selaku kepala Satgas Penurunan Dwelling Time.

Rombongan asal Jakarta tersebut juga mengajak awak media mengunjungi Terminal Teluk Lamong untuk membantu memperkenalkan kepada masyarakat bahwa Indonesia memiliki terminal ramah lingkungan semi otomatis yang memiliki kontribusi positif untuk mengurangi dwelling time dan meningkatkan perekonomian di Indonesia.

Agung Kuswandono menjelaskan pula bahwa isu dwelling time tidak hanya melibatkan satu pihak saja, namun seluruh pihak ikut berkontribusi termasuk pengguna jasa agar barang dapat cepat dikeluarkan dari pelabuhan/ terminal. “Terminal Teluk Lamong, bea cukai dan karantina serta pihak lain yang terkait telah melakukan inovasi untuk mengurangi dwelling time termasuk melalui sistem online yang telah dilakukan,” kata pria yang pernah menjabat sebagai Dirjen Bea Cukai tersebut.

Terminal Teluk Lamong sebagai karya besar Indonesia melalui PT Pelindo III (Persero) diharapkan dapat terus dijadikan contoh bagi terminal lain dengan sistem yang cepat, tepat dan akurat serta terintegrasi sehingga dapat mempercepat dwellingtime, menekan harga logistik dan mendongkrak perekonomian bangsa. (wh)