Demi Perdamaian, Bule Australia Jalan Kaki Bali-Jakarta

Demi Perdamaian, Bule Australia Jalan Kaki Bali-Jakarta
Warga Australia, Craig L. Hodges yang melakukan perjalanan dari Bali ke Jakarta hanya dengan jalan kaki dan menyempatkan untuk berkunjung di Kampus Unitomo Surabaya, Selasa (17/2/2015).

Stigma buruk yang selama ini melekat bahwa kaum muslim tidak bisa hidup berdampingan dengan kaum non muslim, membuat salah seorang warga asal Australia gerah. Untuk membuktikan ke seluruh dunia bahwa hal itu tidak terbukti, Craig L. Hodges melakukan jalan kaki dari Bali ke Jakarta selama 65 hari.

Kepada wartawan, Craig menjelaskan bahwa aksi jalan kaki yang dilakukannnya ini lantaran kebimbangan atas stigma yang berkembang di kalangan masyarakat internasional mengenai kaum musli. Diakuinya, masyarakat Barat masih menganggap bahwa warga muslim baik di Indonesia maupun di negara lainnya tidak bisa hidup berdampingan.

“Terlebih ada kejadian Charlie Hebdo dan lain sebagain itu sempat membuat saya terpukul. Selama satu minggu saya stres dan tidak keluar kamar sama sekali. Hingga tepat pada 26 Januari lalu atau saat peringatan tragedi Bom Bali saya melakukan aksi jalan kaki dari Bali ke Jakarta,” jelasnya saat ditemui di Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya, Selasa (17/2/2015).

Dalam etape pertama tersebut, Craig menempuh rute Denpasar-Surabaya dengan menghabiskan waktu 20 hari perjalanan. Jarak yang cukup jauh membuat Craig banyak belajar terhadap keragaman Indonesia. Selama berjalan lebih dari 500 kilo meter tersebut pria penganut Budha ini mengaku mendapatkan banyak kesan yang tidak ia dapatkan ketika di Australia atau di masyarakat Barat.

“Perjalanan saya dari Bali sampai sini (Surabaya) dengan selamat membuktikan bahwa di sini (Indonesia) adalah tempat yang aman. Bahkan selama tiga minggu melakukan perjalanan itu, masyarakat dari Bali hingga Surabaya tampak baik sekali. Suatu kali saya bahkan dipersilahkan warga Probolinggo untuk beristirahat di Masjid,” aku pria 42 tahun ini.

Untuk itu dalam aksinya ini ia ingin mengirimkan pesan ke dunia khususnya Eropa dan negaranya, bahwa stigma  warga muslim tidak bisa hidup berdampingan itu salah besar. Dalam masa perjalannya Craig juga merekam aktivitasnya dengan sosial dan kultur masyarakat setempat lalu diunggah ke akun sosial media miliknya.

“Saya juga meminta bantuan masyarakat agar terus menyebarkan, share semua aktivitas saya. Karena semua aktivitas saya juga bisa diakses di www.craighodgesconsultancy.com/peacewalkwithmuslims,” jelentrehnya.

Seperti terlihat Selasa pagi, setelah beristirahat selama dua hari, Craig kembali melanjutkan perjalanan di etape kedua yakni Surabaya-Yogyakarta yang akan ditempuh selama 15 hari perjalanan. Namun sebelum menempuh perjalanan selama 330 kilo meter ke Yogyakarta, Craig menyempatkan untuk mampir di Makam Sunan Ampel bersama 40 mahasiswa Unitomo.

“Totalnya saya membutuhkan waktu yang panjang, ini sudah selesai 20 hari, masih ada 45 hari lagi yang harus saya selesaikan hingga bisa sampai di Jakarta pada awal April mendatang. Rencananya saya akan menuju langsung ke masjid Istiqlal Jakarta,” bebernya.

Sementara itu, Rektor Unitomo Surabaya Bachrul Amiq yang melepas 40 mahasiswanya bersama Craig berangkat ke Sunan Ampel berpesan bahwa apa yang dlakukan oleh warga Australia ini adalah sebuah upaya pelurusan tentang stigma buruk yang saat ini berkembang di masyarakat Barat.

“Saya lihat kesungguhannya sangat luar biasa untuk benar-benar menunjukkan bahwa warga muslim itu tidak seperti yang ditudukan selama ini,” tandasnya. (wh)