Demi Nyawa Pasien, Perawat Rela Disandera Rumah Sakit

Demi Nyawa Pasien, Perawat Rela Disandera Rumah Sakit
Kepala Bidang Koordinator, Siti Hani’ah dan Kepala Tata Usaha Puskesmas Bersalin Jagir, Endang Dwi Prastiwi dibantu perawat tampak terampil saat merawat bayi yang baru saja dilahirkan beberapa hari yang lalu.

Suasana asri dan teduh sangat terasa saat berkunjung di Puskesmas Bersalin Jagir, Wonokromo-Surabaya. Selain karena rimbunnya tanaman, puskesmas yang berada di kawasan jalan Bendul Merisi 1, Surabaya itu juga menawarkan kesan indah dengan banyaknya berbagai jenis hias.

Sementara bangunan yang berjajar sambung tampak kelihatan eksotik dengan arsitektur khas Belanda. Ya, bangunan di Puskesmas Jagir memang telah menjadi bagian dari bangunan cagar budaya di Surabaya.

Di dalam bangunan bersejarah itu sehari-hari menjadi saksi lahirnya ribuan putra-putri penerus bangsa. Dalam sehari, diceritakan salah satu perawat, ada sedikitnya satu hingga dua ibu hamil yang melahirkan di tempat itu. Tidak heran, sebagai salah satu puskesmas bersalin terbesar di Surabaya, Puskesmas Bersalin Bendul Merisi selalu ramai dipadati pasien.

Namun saat enciety.co berkunjung, Rabu (11/3/2015), suasana tampak sedikit santai. Puluhan perawat dan dokter tidak terlihat lebih sibuk dibanding hari-hari biasanya. Ini karena sejak diberlakukan program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) puskesmas bersalin tersebut lebih sepi.

“Sejak ada program BPJS pasien lebih turun. Ini karena pusat pelayanan BPJS sudah tersebar ke berbagai klinik-klinik di seluruh Surabaya. Jadi kebanyakan pasien yang hanya sekedar kontrol itu bisa langsung di bidan atau klinik di rumahnya masing-masing,” aku Endang Dwi Prastiwi, Kepala Tata USaha Puskesmas Bersalin Jagir Surabaya.

Meski cenderung menurun, tapi diakui Endang animo masyarakat untuk berobat di Puskesmas Bersalin cukup tinggi. Dalam sehari saja, diungkapkan dia, ada sedikitnya 250-300 pasien berobat jalan. Sedangkan pasien rawat inap mencapai 80-100 orang tiap bulannya.

Tidak heran jika di puskesmas tersebut jumlah dokternya jauh lebih banyak dibanding puskesmas lainnya. Setiap hari, ada 15 dokter siaga di tempat itu. Di antaranya terdiri dari 7 dokter umum, 6 dokter gigi, 1 dokter kandungan, dan 1 dokter spesialis. Belum ditambah 14 perawat yang siaga 24 jam dengan tiga shift.

“Biasanya di pagi hari akan ada 3 perawat untuk shift pagi, lalu 2 perawat di shift sore, dan 2 lagi di shift malam. Sisanya memang giliran libur,” terang Endang.

Seperti dialami Siti Hani’ah, bidan sekaligus Kepala Bidang Koordinator Puskesmas Bersalin Jagir. Dia harus siaga baik itu saat bertugas di pagi, sore, atau malam hari. Sebagai bidan, ia menyadari setiap saat pasien datang tiba-tiba dan memaksanya untuk tetap memberikan pelayanan secara optimal.

Seperti ia alami beberapa bulan lalu. Lazimnya bidan ia sering menemui berbagai jenis pasien ibu hamil yang ingin kontrol kandungan. Tapi di suatu malam, saat bertugas bersama dua rekannya di Puskesmas Jagir, ia mendapati kasus ibu dua anak yang berusia 21 sedang hamil besar.

“Awalnya dia itu pernah datang ke rumah saya sekali bersama suaminya. Mereka datang saat kandungannya masih di minggu-minggu awal. Waktu itu, saya memprediksikan masa kehamilannya hanya delapan bulan saja. Karena itu saya mengimbau agar ia rajin mengontrolkan kehamilannya,” jelas dia.

Sayangnya, kedua pasangan muda itu justru tak pernah datang lagi untuk kontrol usia kehamilan. Delapan bulan kemudian, tiba-tiba ibu muda itu datang ke rumah Hani’ah dengan memboyong dua anak kecilnya tanpa suami. “Ternyata sudah mau mbrojol anaknya, ya saya langsung bawa ke puskesmas,” bebernya.

Begitu tiba di puskesmas dan naik di ranjang persalinan, ibu muda yang tidak disebutkan identitasnya oleh Hani’ah itu langsung melahirkan anak ketiganya dengan mudah.

“Saya lega. Saya pikir ini sudah berakhir, tapi ternyata justru ini adalah awal dari perjuangan panjang,” katanya sembari bergeleng-geleng menceritakan.

Ini karena selepas melahirkan, ibu muda ini kemudian mengalami hipertensi tinggi. Bahkan tensi saat itu menunjukkan di luar kewajaran, yakni mencapai 190 per 100.

“Saya mencari keluarganya tidak ada. Waktu itu saya butuh keputusan karena pasien harus dibawa segera, tapi ternyata suaminya tak kunjung datang,” kesalnya.

Karena kondisi cukup genting, ia pun memutuskan untuk membawa pasien ke Rumah Sakit Angkatan Laut (RSAL) dr Ramelan Surabaya. Saat tiba di rumah sakit, Hani’ah menghadapi permasalahan lagi, pihak rumah sakit ingin jaminan dari keluarga pasien.

“Waktu itu sudah tengah malam dan keluarga tidak kunjung datang. Handphone suaminya juga tidak bisa dihubungi. Terpaksa dua perawat yang berjaga malam di puskesmas saya jadikan sebagai penjaminan rumah sakit agar pasien cepat mendapat penanganan medis,” tutur dia.

Sementara itu, saat bersamaan Hani’ah memutuskan untuk mencari keluarga pasien di rumahnya kawasan Joyoboyo. Namun saat tiba, ternyata tidak ada satu pun orang dan keluarga. Ketua RT setempat bahkan mengaku tidak kenal ibu tiga anak itu karena bukan warga Surabaya dan hanya mengontrak rumah di Surabaya.

“Saya sempat putus asa. Saat itu hujan, saya tidak tahu harus kemana lagi. Sampai di suatu warung kopi ada salah satu warga yang datang pada saya dan mengatakan alamat orang tua pasien. Saya pun tidak tunggu waktu lagi. Saya telurusi alamat rumahnya dengan jalan kaki,” ceritanya.

Tiba di rumah orang tua pasien, Hani’ah mengaku heran. Ini karena orang tua itu tidak tahu jika anaknya sedang melahirkan dan saat itu kritis di rumah sakit. “Saya pun meminta agar suaminya juga dicari. Ternyata suaminya itu tidur di kamar,” cerita Hani’ah.

Meski begitu, ada perasaan bangga baginya. Ini karena ibu tiga anak yang meregang nyawa lantaran hipertensi itu bisa diselamatkan karena kecepatan penanganan medis. Setelah keluarga datang, dua perawat rekan Hani’ah juga bisa dibebaskan dari penyanderaan pihak rumah sakit.

“Memang sebagai pelayan publik kita harus siap dalam segala situasi apapun itu nantinya,” kesan Hani’ah yang diamini oleh Endang. (wh)