Demi Infrastruktur Gas, PGN Balik Akuisisi Pertagas

Demi Infrastruktur Gas, PGN Balik Akuisisi Pertagas

 

Kepala Pengkajian Energi Universitas Universitas Indonesia (UI), Iwa Garniwa menjelaskan trader gas yang jadi broker, tidak memberikan berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur gas dalam negeri. Karena seharusnya, bisnis gas di dalam negeri harus berjalan seiring perkembangan pembangunan infrastruktur gas.

Selama ini, banyak dari broker gas itu mendapatkan gas dari PT Pertagas, anak usaha PT Pertamina (Persero). Hal ini dinilainya bukan merupakan bisnis gas yang baik karena  tidak mengembangkan infrastruktur gas.

“Harusnya para trader beli gas dari Pertagas itu juga bangun infrastruktur dalam rangka melengkapi infrastruktur gas di Indonesia,” ujar Iwa, Minggu (23/2/2014).

Selama ini kata Iwa, PT Perusahaan Gas Negara, Tbk (PGN) banyak mengembangkan infrastruktur gas di Indonesia. Adapun Pertagas, banyak mendapat warisan jaringan pipa dari induknya yaitu Pertamina. Iwa memberi contohnya adalah pipanisasi Gresik-Semarang.

Pertamina memenangkan tender pembangunan pipa Gresik-Semarang itu pada 2006 silam. Namun hingga saat ini belum juga ada tanda-tanda akan dibangun.

Menurut Iwa agar infrasturktur gas itu bisa dibangun dan dikelola dengan maksimal akan lebih bagus kalau Pertagas kemudian terkelola lebih maksimal, akan lebih baik bila PGN segera mengakuisisi Pertagas. Pertamina sebagai induk dari Pertagas, sudah tak perlu lagi mengurusi hilir gas dan fokus pada upaya untuk menaikkan lifting minyak.

“Jelas sangat aneh Pertamina yang sudah  lebih tua kalah dengan Pertagas yang masih muda. Sehingga saya setuju, PGN kemudian mengakuisisi Pertagas. Biarkan Pertamina konsentrasi di minyak, dan sesuai core bisnisnya,” jelas Iwa.

Dihubungi terpisah, Koordinator Investigasi dan Advokasi FITRA, Uchok Sky Khadafi pun sepakat jika PGN yang harus segera mengakusisi Pertagas, dan masalah perminyakan diurus ke Pertamina saja.

“Jadi ada fokus core bisnis masing-masing. Jadi Pertamina tidak usah masuk lagi ke bisnis hilir gas, karena Pertamina belum berpengalaman di sektor gas. Konflik yang terus-terusan ini justru membuat publik menjadi curiga ada mafia bermain di belakang Pertamina,” kata Uchok. (tbn/bh)