Delapan Negara Hadiri Marintec Indonesia 2014

Delapan Negara Hadiri Marintec Indonesia 2014
Senior Vice President UBM Asia Christopher Eve.

Untuk pertama kalinya, Indonesia akan menjadi tuan rumah dalam ajang pemeran dan konferensi industri maritim se-Asia Tenggara dalam event Marintec Indonesia 2014. Acara yang diikuti oleh delapan negara ini bakal digelar di Jakarta International Expo, 26-28 November 2014.

Senior Vice President UBM Asia Christopher Eve mengatakan, sebelumnya Marintec telah di gelar oleh UBM di beberapa negara, diantaranya Jepang dan China. Dan even tersebut cukup mensupport terhadap industri maritim ke kedua negara tersebut berkembang lebih baik. 

“Kali ini, kami akan mengadakan event yang sama di Jakarta. Dengan harapan perhelatan Marintec Indonesia 2014 itu akan mampu menyupport industri maritim Indonesia,” ujar Christopher Eve di Surabaya, Rabu (10/9/2014).

Diungkapkannya, Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia yang memiliki potensi yang sangat besar untuk bisa dikembangkan. Dengan pertumbuhan sebesar 6 persen, Indonesia diproyeksikan menjadi negara yang paling berkembang di Asia Tenggara dan menjadi negara terkaya di dunia ke-12 dengan pendapatan per kapita sebesar USD13.000 hingga USD16.000. Sementara produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2025 juga diperkirakan akan mencapai USD 3,8 triliun hingga USD 4,5 triliun. 

Namun kenyataannya, untuk industri maritim sendiri, perkembangannya sangat lambat bahkan cenderung menurun. Berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah juga tidak mencerminkan keberpihakannya terhadap pertumbuhan kinerja industri yang harusnya menjadi ruh bangsa.

“Untuk itu, kami menganggap sangat tepat jika Marintec Indonesia 2014 ini akan diadakan di Jakarta. Karena nantinya, tidak hanya pembeli dan penjual yang akan bertemu, tetapi acara ini juga akan dihadiri oleh investor dan pelaku industri maritim untuk membahas isu-isu tentang kemaritiman di Indonesia. Akan ada transfer keilmuan antar pelaku industri yang hadir,” katanya.

Ada dua isu utama yang akan dibahas dalam konferensi tersebut, pertama adalah isu polusi di wilayah laut dan isu keselamatan laut. Selain itu, ada juga pembahasan soal regulasi pemerintah yang bersinggungan dengan sektor maritim, baik regulasi di bidang industrinya atau dibidang kebijakan fiskal.

Dari pembahasan atau dialog tersebut diharapkan bisa memetakan persoalan riil yang sedang dihadapi para pelaku industri maritim di Indonesia yang nantinya akan menjadi referensi bagi pemerintahan Jokowi untuk merumuskan program di sektor kemaritiman.

Sementara itu, Wakil Menteri Perindustrian, Alex SW Retraubun menyambut baik dengan diselenggarakannya event tersebut di Jakarta. Ia sangat yakin jika nantinya perhelatan ini akan berkontribusi besar terhadap kemajuan industri maritim dalam negeri. Mengingat saat ini kinerja industri tersebut masih sangat lamban. 

“Negara kita adalah negara maritim, negara kepulauan. Tetapi kita bukan pemulia laut. Kita belum bisa memanfaatkan laut secara optimal, belum bisa mengamankan laut secara optimal dan belum mampu mengendalikan laut secara optimal. Kondisi fisik saja yang mencerminkan negara maritim karena 75 persen wilayah Indonesia adalah laut ,” tegasnya. (wh)