Data dan Statistik Jadi Pengobat Rindu Magetan

Data dan Statistik Jadi Pengobat Rindu Magetan

Jalan tol ruas Kertosono-Ngawi di Kabupaten Madiun, foto:antara/siswowidodo

Unung Istopo Hartanto, peneliti senior Enciety Business Consult.

Obrolan malam minggu lewat daring ini dimulai dari kelakar dan saling sapa. Malam ini, edisi kedua, reuni alumni yang diisi dengan berbagi dan bertukar ide. Mencoba merangkai potensi, lewat kisah, cerita dan pengalaman. “Maospati Magetan Dulu dan Sekarang” menjadi topik diskusi.

“Serius nih, mau bahas data?” ucap rekan bertanya. Suaranya seolah bernada ragu sambil terkekeh. Sulit menangkap pasti maksud ungkapannya. Tanpa kamera aktif, kami semua tak bisa saling menebak ekspresi wajahnya.

Terdengar juga celetukan rekan yang lupa mematikan (mute) suara. “Nonton apa, Kang,” sepertinya ada yang bertanya disampingnya.

“Ini lagi belajar grafik,” jawabnya sambil membetulkan letak posisi telepon pintarnya.

Pertambahan Penduduk dan Sex Ratio

 Tampilan deretan bagan batang menyajikan tujuh dekade perkembangan jumlah penduduk Magetan mengawali sekaligus menjadi daya ungkit obrolan ini.

Menariknya, Paulus Henri Laksono, narasumber yang juga teman sekelas saat SMP ini, mengungkapkan sex ratio (rasio jenis kelamin) Magetan terus alami peningkatan. Meski pun angkanya masih di bawah 100, artinya jumlah perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki.

Fakta trend kenaikan ini menimbulkan pertanyaan, karena tentu bukan tanpa sebab. Apakah terjadi peningkatan laki-laki di Magetan karena kelahiran, migrasi atau terjadi penurunan nilai harapan hidup wanita.

Struktur piramida penduduk Magetan dari 670 ribu jiwa ini juga menggambarkan ada dua kelompok usia yang membagi ciri sex ratio ini menjadi berbeda nyata. Pada usia di atas 35 tahun, semua kelompok usia memiliki jumlah wanita di atas laki-laki. Sebaliknya usia 35 tahun ke bawah jumlah laki-laki di atas perempuan.

Hal ini tentu menggelitik. Karena hampir semua peserta laki-laki di diskusi online ini tidak berdomisili di Magetan lagi. Sudah tersebar di berbagai kota. Mungkinkah ini salah satu sebab. Namun, tentu saja, itu hanya sebuah prior, sebuah indikasi awal. Harus dibuktikan dengan data pendukung lainnya. Karena secara umum, tetap ada kenaikan pada penduduk laki-laki.

Tak biasanya, obrolan ringan penuh canda tawa kami berubah menjadi seserius ini. Namun, peserta bukan berkurang, malah bertambah. Mungkin karena tergelitik catatan-catatan yang kami bagikan juga di grup.

Indeks Pembangunan Manusia

 Malam makin larut. Tawaran untuk break ternyata tak mempan. Peserta tetap mau obrolan ini dilanjutkan. Sambil menghela napas, dan narsum izin berpindah tempat agar suara lebih jelas terdengar. Sleman, saat itu hujan gerimis, dengan suara-suara khas alam.

Setelah paparan awal, visualisasi statistik kali ini lebih berwarna. Sebuah infografik tentang IPM atau Indeks Pembangunan Manusia, ditampilkan kembali oleh Paulus Henri Laksono. Pengalaman sebagai koordinator Fungsi Statistik Sosial BPS Sleman membuat dia sangat menikmati. Tak tampak lelah. Meski mengaku, sebagai putra kelahiran Maospati Magetan. Baru kali ini mengolah dan menganalisis data Magetan.

Sajian materi ini membuat kami sejenak terdiam. Sedikit bangga lega, IPM Magetan capai 74.15, cukup baik di antara kabupaten kota di Jawa Timur. Namun juga sedih, ternyata masih ada IPM kabupaten di Indonesia yang di bawah angka 50.

Sebagaimana kutipan saat pembuka presentasi ini. Menyalin dari yang dikatakan Pandji, seorang standup comedy. Indonesia ini adalah rumah kita, tubuh kita. Ibarat pemerintah adalah kaki kanan dan rakyat kaki kiri. Saat keduanya bergerak maka akan mampu berlari. Sehingga inisiatif merawat dan memperbaiki negeri ini harus menjadi semangat bersama, bukan hanya menuntut pemerintah saja.

Kami semua berasa seperti murid lagi, menyimak penuh apa yang disampaikan. Mencoba mendalami tiap indikator yang menjadi penanda seberapa besar kualitas hidup penduduk Magetan.

Umur harapan hidup di Magetan 72,65 tahun artinya bayi yang lahir tahun 2021 di Kabupaten Magetan diperkirakan mampu bertahan hidup hingga usia 72,65 tahun.

Dari sisi pendidikan ada dua indikator, dari metode baru pencatatan IPM ini yaitu rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah. Rata-rata lama sekolah penduduk Kabupaten Magetan usia 25 tahun ke atas setara dengan tingkat pendidikan SMP kelas VII dan harapan lama sekolah mencapai 14,04 tahun yang berarti bahwa anak-anak usia 7 tahun memiliki peluang untuk menamatkan pendidikan hingga lulus D II.

Pada tahun 2021 pengeluaran per kapita masyarakat Kabupaten Magetan yang disesuaikan mencapai Rp 11,83 juta per tahun.

Inisiasi Kreatif Digital

Beruntungnya reuni ini dilakukan lewat daring. Sehingga hilangkan keterbatasan. Selain ada rekan yang mengikutinya bersama keluarga, dengan TV tetap menyala, atau ada yang bertugas patroli. Bahkan ada yang sedang dalam perjalanan di atas bus. Diskusi tetap bisa diikuti dan makin menarik.

Tidak semua pertanyaan terjawab, karena masalah waktu. Salah satu adanya indikasi bahwa banyak yang ingin menghabiskan usia 50 tahun ke atas dengan hidup kembali ke desa di Magetan. Dengan paparan angka-angka statistik di atas, kontribusi apa yang bisa disinergikan?

Ketimpangan pengeluaran secara menyeluruh kabupaten kota di Jawa Timur dengan pendekatan gini ratio menunjukkan ketimpangan moderat. Masih lebih baik dari rata-rata Indonesia. Namun tentu harapannya pengeluaran per kapita makin tinggi dan ketimpangan rendah.

Kabar baiknya, digitalisasi mampu memecah inovasi. Prediksi potensi pasar bukan hanya seluas wilayah saja. Namun menjadi tak terbatas ruang dan waktu. Banyak sekali lokasi jajan atau wisata menjadi viral karena sosial media Tiktok atau instagram. Banyak orang di luar wilayahnya lebih tahu mendalam dibandingkan tetangga lokasinya sendiri.

Menyatukan ide dan gagasan membangun Magetan dengan kekuatan budaya dan UMKM lokal dengan kreatif digital merupakan salah satu motivasi. Tentu, bangkitan ekonomi ini juga diharapkan makin besar. Di mana pemerintah kabupaten kota juga menggandeng investor baik bisnis maupun pendidikan untuk masuk. Menjadi peluang tumbuhnya berbagai sektor ekonomi setempat.

Selain digitalisasi, hadirnya tol panjang, menjadi peluang kecepatan perkembangan kabupaten kota yang dilewatinya. Jarak yang hampir sama antara Maospati dan Surabaya dengan Maospati dan Jogja (170 km-an), namun memilik waktu tempuh yang berbeda. Membuat jarak ke Surabaya satu jam lebih cepat dibandingkan ke Jogja.

Kemudahan akses ini akan membangun alur pengalaman yang menarik soal bisnis dan ekonomi di masa depan. Tentu termasuk dengan tantangan yang akan dihadapi.

Meski diskusi malam itu, belum banyak mendalami Maospati. Sebagai salah satu kecamatan di Magetan yang menyimpan banyak cerita. Namun angka-angka statistik yang disampaikan dan diskusi yang mengalir sudah sedikit mengobati kerinduan akan kampung halaman. Mencoba menggalinya lagi lebih dalam. Pada pertemuan reuni selanjutnya.

Salam. (*)

1 komentar di “Data dan Statistik Jadi Pengobat Rindu Magetan

  1. MasyaAlloh …tabarokalloh…tmn2 smp yg jozz tenan….smg ilmunya bermanfaat dan berkah untuk kemajuan Maospati -magetan khususnya dan Indonesia umumnya.,..

Komentar di tutup.