Dari Handicraft, Rika Raup Rp 20 Juta Sebulan dan Terbitkan 10 Buku

Dari Handicraft, Rika Raup Rp 20 Juta Sebulan dan Terbitkan 10 Buku
Rika Destriyaningsih Pahlawan Ekonomi Surabaya yang mengaku berpenghasilan RP 20 juta per bulan karena bisnis pernak-pernik dan suvenir pernikahan.

Tidak banyak orang punya keberanian untuk berubah. Terlebih dari karyawan berubah menjadi seorang pengusaha. Tapi hal itu tak berlaku bagi Rika Destriyaningsih. Wanita paro baya itu nekat melepas jabatannya sebagai seorang akuntan dari sebuah perusahaan swasta untuk beralih menjadi seorang pengusaha suvenir dan pernak-pernik khusus pernikahan.

Pada 2005 lalu, alumnus Universitas Negeri Airlangga (Unair) Surabaya lulusan 1990 itu, dibenturkan dengan keputusan berani. Sebagai seorang pekerja sekaligus ibu rumah tangga, ia harus mengurus semua urusan kantor ditambah urusan rumah tangga. Tidak hanya suami, tiga buah hatinya yang masih imut-imut sering mengganggu pekerjaannya.

Terlebih selepas melahirkan pada awal 2005 silam, waktu Rika banyak tersita untuk mengurus anaknya. Di sisi lain ia harus tetap bekerja, berangkat tepat waktu dan pulang di saat senja. Akibatnya, anaknya yang masih kecil-kecil sering tidak mendapatkan perhatiannya secara penuh.

“Saya sadar kalau saya harus mengurus anak. Karena itu saya putuskan untuk berhenti bekerja dan memulai usaha,” akunya saat ditemui enciety.co di Road Show Pahlawan Ekonomi (PE) Surabaya di Kecamatan Karang Pilang, Kamis (23/10/2014).

Dibantu sang suami, Muhammad Fatahillah, Rika yang memiliki hobi membuat pernak-pernik sejak kecil sadar bahwa kepiawaiannya merangkai ide menjadi produk ternyata layak dijual. Ia pun semakin rajin belajar dari membaca buku dan dari bertanya-tanya dengan ahlinya. Setelah kian mahir, akhirnya perempuan 47 tahun itu memutuskan untuk semakin serius berbisnis creative industry (CI).

“Saya nggak pakai modal. Lha wong awalnya saya membuat pernak-pernik dari barang daur ulang semua. Alhamdulillah, banyak yang laku,” ujarnya yang memberi label usahanya, Rika’S Craft.

Rika lalu menceritakan, mulanya ia tak serta merta menekuni usaha ini dengan serius. Ketrampilan ini hanya dimanfaatkan untuk mengisi  waktu senggang sembari menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga.

Cerita mulai berubah saat  karya-karyanya dikagumi mantan teman kuliah dan rekan kerja. Akhirnya, dari mulut ke mulut produknya dikenal dan mulai mendapatkan pesanan.

“Saya ingat waktu pertama kali mendapat order membuat tempat kartu nama sebanyak 600 biji. Waktu, saya sama suami pada bengong antara nggak percaya dan apa yang harus dikerjakan. Soalnya nggak siap,” ujarnya, lalu tawanya berderai.

Order pertama itu, aku Rika, akan selalu dikenang. Pasalnya, dari sana, dia dan sang suami bertekad menyeriusi usaha ini.  Selain mengurus surat izin usaha, Rika pun mulai mempekerjakan tenaga tambahan. Untuk ini,  dia memberdayakan para tetangganya di Kedurus Dukuh I, Surabaya.

“Daripada ngerumpi atau nggosip nggak jelas, mereka saya tarik, saya ajak membantu di sini,” ujarnya.

Usaha yang digeluti pun mulai berkembang. Produk yang dihasilkan pun lebih beragam. “Kami juga menerima pesanan by order. Apa permintaan customer kita layani,” tuturnya.

Namun, seiring berganti musim dan tahun, pernak-perniknya dari bahan daur ulang tidak diminati warga. Alhasil pendapatannya merosot. Hingga pada 2011, ia diundang oleh pihak Kelurahan Kedurus Surabaya untuk mengikuti Pelatihan PE Surabaya.

“Iya saya diajak Pak Supardi (Dia adalah penggerak UMKM di Kecamatan Karang Pilang). Pada saat itu saya ikut banyak pelatihan. Saya tertarik untuk menekuni hobi saya membuat pernak-pernik dan suvenir. Akhirnya, saya putuskan untuk berbisnis suvenir dan pernak-pernik alat pernikahan,” akunya.

Rakus Membaca Buku

Rika sangat tekun dan tidak pernah bosan untuk terus belajar dari hobinya membaca buku. Saban hari ia tak penah melewatkan membaca buku. Buku apa saja. Dari kisah-kisah inspiratif, ekonomi, bisnis, dan juga buku-buku how to.

Dari buku-buku itu ia pun menitik pelajaran. Lalu, ia mencoba menerapkannya. Ibarat merajut benang, Rika melakukannya helai demi helai.

Hingga pada 2013 lalu, produk yang dibuat Rika mendapat apresiasi positif. Ia menyabet juara ketiga kategori CI di Pahlawan Ekonomi. “Saya bangga sekali,” cetusnya.

Setelah mendapat hadiah itu, semangat Rika makin berkobar-kobar. Ia makin terlecut untuk menaikkan kapasitas dan kualitas produknya. Perempuan ramah terbuka terhadap semua orang itu semakin berani berinovasi dengan produk-produknya. Mulai dari pernak-pernik pernikahan berupa pulpen hias, bros, sulam pita, pemanfaatan klobot jagung untuk seserahan nikah, membuat box, melipat hantaran, stocking flower, dan masih banyak lainnya.

Harganya pun variatif. Mulai dari yang terkecil Rp 4 ribu saja hingga Rp 300 ribu per produk. Tergantung selera pelanggannya, Rika menyediakan banyak varian suvenir yang cantik-cantik.

“Alhamdulillah, sekarang pasarnya sudah sampai seluruh Jawa Timur. Dari ikut pameran-pameran di mal atau yang diselenggarakan PE Surabaya banyak yang memesan produk saya,” tuturnya.

Saking larisnya, diakui oleh Rika bahwa sampai saat ini penghasilannya mencapai Rp 20 juta sebulan. Lewat usahanya itu, Rika mampu memperkerjakan tiga karyawan. Ia juga tak segan menambah tenaga bila mendapatkan pesanan produk yang banyak.

Tidak hanya itu, berkat hobinya rajin membaca buku-buku resep membuat Rika bisa menerbitkan 10 buku resep berbagai kerajinan hasil karyanya sendiri. Semua buku-bukunya itu kini telah diterbitkan di sejumlah perusahaan penerbitan nasional.

“Buku-buku itu saya tulis saat ada waktu senggang sembari ngemong anak yang masih kecil. Ternyata animo masyarakat tinggi, banyak yang membelinya mas,” bebernya.

Rika menjual bukunya dengan harga yang variatif. Mulai dari Rp 27 ribu hingga Rp 80 ribu. “Bukunya memang variatif mengajarkan cara membuat kerajinan, ada juga cara merangkai uang, melipat benang, dan banyak lainnya lagi,” imbuh dia.

Butuh Tenaga Andal

Saat ini, perempuan yang tinggal di Kelurahan Kedurus Dukuh I Nomor 66, Surabaya itu mengaku sangat menikmati usahanya yang sekarang. Rika mengaku tidak menargetkan macem-macem. “Pokoke ngalir saja, mas hidup ini,” ucapnya.

Selain sibuk menerima pesanan, Rika juga terus memperbarui pengetahuannya dengan rajin surfing di internet. Ini dilakukan untuk melihat tren terbaru dari produk handycraft yang ada di pasaran baik lokal maupun internasional. Dari sana, dia kemudian lakukan modifikasi  menelurkan produk-produk baru.

“Jadi produk kami senantiasa up to date. Selalu selaras dengan tren pasar,” jelasnya.

Kendati hampir sepuluh tahun bergelut dengan usaha ini, promosi yang dilakukan Rika’S Craft masih kovensional. Promosi yang dilakukan dari mulut ke mulut oleh para pelanggannya yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo dan  beberapa kota di Jawa Timur.  Bahkan pelanggannya pun datang dari luar kota seperti Jakarta, Jateng dan Kalimantan.

“Selain itu, sesekali saya ikut pameran yang difasilitasi Pemkot Surabaya,” ungkapnya. “Sebenarnya ada keinginan juga membuat website, tapi takut nanti nggak ada yang mengelola. Saya sendiri kebetulan sudah sangat sibuk,” timpal dia.

Satu kendala yang dihadapi saat ini adalah minimnya tenaga andal  membuat produknya. Selama ini, Rika terjun sendiri mengerjakan detil demi detil produk yang dihasilkan.

“Kesulitan saya di sana. Sulit menemukan tenaga andal. Yang sulit-sulit saya kerjakan sendiri. Andai ada tenaga-tenaga andal yang bisa ikut membantu,” harapnya. (wh)