Dari 2.414 hanya 121 Rumah Sakit Indonesia Berakreditasi Internasional

96 Persen Rumah Sakit di Jatim Belum Terakreditasi
96 Persen Rumah Sakit di Jatim Belum Terakreditasi

Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemkes), Prof Dr Akmal Taher mengatakan, hanya 121 dari 2.414 rumah sakit yang terakreditasi internasional. “Akreditasi diperlukan untuk menjamin mutu rumah sakit dan keselamatan pasien,” ujar Akmal dalam acara peresmian kantor baru Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) dan pelantikan surveior di Jakarta. .

Menurut dia, jumlah tersebut sangat sedikit jika dibandingkan jumlah rumah sakit dan pasar di Tanah Air. Akreditasi adalah suatu pengakuan yang diberikan pemerintah pada manajemen RS karena telah memenuhi standar yang diterapkan. Tujuan dari akreditasi itu adalah meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, agar masyarakat bisa mendapatkan layanan yang bermutu.
Berdasarkan UU 44/2009 tentang Rumah Sakit pasal 40 menyatakan akreditasi dilakukan sekala berkala minimal tiga tahun sekali. “Dengan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, diharapkan dapat mengurangi minat masyarakat untuk berobat ke luar negeri,” tambah dia.

Proses akreditasi rumah sakit dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat bahwa rumah sakit menitikberatkan sasarannya pada keselamatan pasien dan mutu pelayanan. Ketua Eksekutif KARS, Dr dr Sutoto MKes, mengatakan jumlah RS yang terakreditasi baru separuhnya, yakni sekitar 1400. “Ke depan, kami berupaya mengedukasi mengenai pentingnya akreditasi,” kata Toto.

Dalam kesempatan tersebut, juga dilakukan penyerahan sertifikat kelulusan dari lembaga penjamin mutu kesehatan dunia atau ISQua.

Menurut Toto, sertifikat itu merupakan bentuk keseriusan KARS menjadi lembaga independen yang terpercaya membantu rumah sakit meningkatkan mutu dan keselamatan pasien di Tanah Air. “Dengan adanya pengakuan dari ISQua ini, maka kami telah menjadi badan akreditasi kelas dunia,” jelas Toto. (bst)