Danrem 084 Bhaskara Jaya Ingatkan Bahaya Perang Proxi

Danrem 084 Bhaskara Jaya Ingatkan Bahaya Perang Proxi
Danrem 084 Bhaskara Jaya Kol Inf Nur Rahmad memberikan pengarahan di Graha Sawunggaling, Rabu (22/7/2015).

Danrem 084 Bhaskara Jaya, Nur Rahmad, menghimbau masyarakat menyikapi kejadian di Tolikara dengan arif dan bijaksana. Menurut dia, yang terpenting saat ini adalah bagaimana menumbuhkan rasa nasionalisme sehingga negara ini bisa kokoh.

Nur Rahmad yang sempat bertugas di Sorong dan Manokwari ini lantas menceritakan, sejatinya tidak ada masalah toleransi antarumat beragama di Papua.

“Saat perayaan Natal, warga muslim ikut membantu pelaksanaan. Begitu pula saat Idul Fitri, warga yang beragama Kristen ikut mengucapkan selamat dari rumah ke rumah,” ungkapnya saat memberikan pengarahan dalam Rapat koordinasi (Rakor) di Graha Sawunggaling, Rabu (22/7/2015).
Nur Rahmad menilai kerusuhan di Tolikara bukan merupakan konflik antara agama satu dan lainnya, sebab korban tidak hanya dari pihak beragama Muslim saja. Kios-kios milik warga Kristen juga turut hangus saat peristiwa pembakaran.

Lebih jauh, Nur Rahmad menekankan akan bahaya proxy war atau perang proksi. Konsep proksi war, kata Nur Rahmad, yakni perang dengan mengandalkan kepandaian. Strategi yang digunakan bisa saja politik adu domba atau dengan sengaja menciptakan kondisi yang memperkeruh suasana.

“Oleh karenanya, kita tidak perlu terpancing sebab di Tolikara sendiri, masalah sudah selesai. Bangunan masjid, mushola dan kios-kios yang terbakar juga sudah dibangun kembali,” imbuhnya.

Senada dengan Nur Rahmad, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Yan Fitri Halimansyah menambahkan, tujuan perang proksi adalah membentuk gelombang kejahatan baru. Guna mengantisipasi hal tersebut, Yan Fitri menegaskan pihaknya mengintensifkan patroli yang selama ini memang sudah rutin dilaksanakan.

“Kami menjalankan beberapa fungsi diantaranya patroli, memonitor, serta menggali informasi di tengah-tengah masyarakat,” tuturnya.

Menurut dia, Surabaya perlu adanya pernyataan sikap bersama para tokoh lintas agama. Hal itu sebagai penegas bahwa di Surabaya sama sekali tidak ada masalah toleransi beragama. “Secara umum kondisi di Surabaya sangat kondusif dan kejahatan juga menurun. Intinya relatif aman. Sejauh ini tidak ada kejadian yang menonjol,” pungkas Yan Fitri. (wh)