Dana PMN Rp 975 M ke PTPN X Difokuskan untuk Hilirisasi Produk

Dana PMN Rp 975 M ke PTPN X Difokuskan untuk Hilirisasi Produk
Salah satu pabrik gula milik PTPN X

PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X) telah resmi mendapatkan dana penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp 975 miliar dari pemerintah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 138 Tahun 2015 tentang Penambahan PMN Republik Indonesia ke Dalam Modal Saham PTPN X sebesar Rp 97,5 miliar dan dari penyertaan modal PTPN III (Persero) berdasarkan PP Nomor 135 Tahun 2015 tentang Penambahan PMN Republik Indonesia ke Dalam Modal Saham PTPN III (Persero) di mana sebesar Rp 877,5 miliar disertakan ke PTPN X. PTPN III adalah induk dari seluruh perusahaan perkebunan milik negara di Indonesia.

Direktur Utama PTPN X Subiyono mengatakan, penambahan PMN tersebut diyakini bisa memperkuat kinerja industri gula dengan berbagai turunan produuknya, khususnya di lingkungan PTPN X sebagai produsen gula terbesar di Indonesia. ”Kami berterima kasih kepada pemerintah yang telah menyuntikkan dana PMN. Penyertaan modal ini membuktikan komitmen pemerintah untuk mewujudkan industri berbasis tebu yang terintegrasi,” ujar Subiyono.

Subiyono menjelaskan, dana PMN akan difokuskan untuk pengembangan produk hilir tebu berupa pabrik bioetanol dan pembangkit listrik serta peningkatan kapasitas pabrik di tiga pabrik gula (PG), yaitu PG Ngadiredjo (Kediri), PG Tjoekir (Jombang), dan PG Gempolkrep (Mojokerto). PTPN X bakal berinvestasi sebesar Rp1,469 triliun ketiga PG tersebut, di mana Rp 975 miliar-nya berasal dari dana PMN. Adapun sisanya dari pinjaman pihak ketiga.

Dia merinci, dana PMN digunakan untuk pembangunan pabrik bioetanol yang diolah dari limbah cair tebu (tetes tebu) di PG Ngadiredjo sebesar Rp 404 miliar. Di PG tersebut juga bakal dirampungkan program cogeneration yang mengolah ampas tebu menjadi listrik yang nantinya dijual ke PLN dengan investasi Rp 332,5 miliar.

Adapun di PG Tjoekir bakal dilakukan pembangunan program cogeneration senilai Rp83 miliar. Dan juga akan dilakukan peningkatan kapasitas giling dari 4.200 ton tebu per hari (TTH) menjadi 4.800 TTH dengan kebutuhan investasi Rp150 miliar.

Sedangkan di PG Gempolkrep dilakukan pembangunan program cogeneration senilai Rp324,5 miliar dan pengembangan produk turunan bioetanol sebesar Rp125 miliar. Selain itu, juga dilakukan peningkatan kapasitas giling dari 6.500 TTH menjadi 7.200 TTH senilai Rp 50 miliar.

”Program tersebut akan selesai dalam tiga tahun ke depan. Dengan berbagai program itu, PTPN X ikut berkontribusi pada upaya pemenuhan kebutuhan energi nasional melalui produksi bioetanol, di mana selama ini kami hanya sebagai penyuplai tetes tebu untuk pabrik etanol milik swasta. PTPN X juga menjadi bagian untuk memenuhi kebutuhan listrik melalui program cogeneration,” beber Subiyono yang juga ketua umum Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi).

Dia memaparkan, saat ini industri gula harus mulai bergeser menjadi industri berbasis tebu terintegrasi dengan melakukan diversifikasi produk. Tak boleh lagi industri gula hanya menghasilkan produk gula semata. Berbagai produk turunan tebu seperti bioetanol dan listrik harus mulai diseriusi.

Subiyono menambahkan, diversifikasi produk hanya bisa dilakukan jika di pabrik gula sebelumnya telah dilakukan efisiensi dan optimalisasi. Diversifikasi dengan membangun program cogeneration yang mengolah ampas tebu menjadi listrik hanya bisa dilakukan jika PG dapat menghasilkan ampas tebu (bagasse) dalam jumlah yang memadai. ”Ampas tebu adalah bahan bakar alami. PG bisa menghasilkan ampas jika PG itu efisien dan kinerjanya optimal. Ampasnya juga bisa digunakan untuk menggerakkan mesin, sehingga lebih hemat,” kata dia.

Selama ini, ampas tebu memang hanya dijual murah untuk pakan ternak dan pellet untuk bahan bakar. Jika dioptimalkan untuk cogeneration tentu nilai tambahnya jauh lebih besar. ”Kami mempunyai potensi kelebihan ampas tebu sebesar 280.000 ton per tahun yang bisa menjadi bahan bakar pembangkit. Ini harus dimulai. Kita sudah jauh ketinggalan. Di Brazil, pabrik gulanya sudah mempunyai cogeneration berkapasitas lebih dari 3.000 MW dan di India lebih dari 2.000 MW,” ujar Subiyono.

Demikian pula untuk pengembangan produk bioetanol dari limbah cair tebu (tetes tebu). Sebelumnya, tetes tebu hanya dijual ke pabrik lain yang mengolahnya menjadi bioetanol dan bumbu masak. PTPN X sudah memulai pengembangan bioetanol dengan mengoperasikan satu pabrik bioetanol di Mojokerto dalam dua tahun terakhir. Namun, PTPN X ingin membangun satu lagi pabrik bioetanol di PG Ngadiredjo Kediri  karena tetes tebu dari PTPN X masih cukup melimpah. (wh)