Dampak Lokalisasi, Temukan Anak Usia 8 Tahun Alami Sex Addict

Dampak Lokalisasi, Temukan Anak Usia 8 Tahun Alami Sex Addict

Teks: (kiri) Kepala Dinas Pengendalian Kependudukan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A) Kota Surabaya, Nanis Chairani.foto: arya wiraraja/enciety.co

Menurut Nanis, keberadaan lokalisasi memang sangat membahayakan, utamanya berpengaruh merusak otak maupun perilaku terhadap anak. Terdeteksinya anak-anak seperti itu harus segera digali lebih dalam, mungkin juga belum ditemukan anak-anak dengan kondisi mengalami kasus yang sama. Sangatlah tepat langkah yang diambil ibu wali kota, lokalisasi yang sudah sekian puluh tahun akhirnya ditutup, walaupun ada pro dan kontra saat penutupan.

“Tujuan utamanya bagaimana supaya anak-anak bisa tumbuh berkembang dengan wajar dan bisa berprestasi, bisa mempunyai masa depan yang cerah untuk Bangsa dan Negara,” imbuhnya.

Perlu diketahui, DP5A mempunyai lembaga yang khusus menangani terkait permasalahan anak dan perempuan, lembaga Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan Dan Anak (PPTP2A) di lingkup kota, dan Pusat Krisis Berbasis Masyarakat (PKBM) di lingkup kecamatan. Warga Surabaya bisa datang langsung ke tempat tersebut untuk mendapatkan informasi terkait permasalahan anak dan perempuan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya Febria Rachmanita menyampaikan, untuk memulihkan kondisi anak tersebut, saat ini pihaknya mengaku telah melakukan pendampingan, baik dari segi pengobatan maupun pendampingan dari segi psikiater dan psikolog.

“Untuk menangani pasien seperti ini, tidak hanya pasiennya saja, keluarganya pun kita ajak, jadi keluarga itu kita galih juga dari psikolog,”ungkap Febria.

Selain itu, Febria juga menyampaikan, pihaknya terus melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat, sebagai upaya deteksi dini dan pencegahan terhadap permasalahan anak. “Dengan melakukan pengawasan terhadap anak, diharapkan tidak terjadi lagi kasus yang tadi,” tandasnya.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemkot Surabaya, Muhammad Fikser menambahkan, jika masyarakat menemukan kasus serupa, silahkan menyampaikan informasi tersebut kepada pihak kelurahan ataupun kecamatan. “Bisa juga langsung melalui DP5A, telpon Command Center 112, dan Puspaga (Pusat Pengaduan Seputar Masalah Keluarga), banyak hal konseling untuk menyelesaikan masalah-masalah anak ini,” tutupnya. (wh)