Dampak Kerusakan Sistem, Starbucks Gratiskan Kopi

Dampak Kerusakan Sistem, Starbucks Gratiskan Kopi

Starbucks Coffee Japan Ltd, perusahaan afiliasi bisnis kopi terbesar dunia pagi hari ini, Kamis (6/2/2014) telah memberikan kopi secara gratis di beberapa gerainya di Jepang.

Bukannya tanpa sebab, pembagian kopi gratis menyusul adanya kesalahan sistem yang dialami Starbucks pagi ini. Kesalahan sistem tersebut mengganggu penjualan di gerainya,

Norio Adachi, Juru Bicara Starbucks bilang, adanya gangguan pada sistem itu bakal diperbaiki perusahaan franchise ternama itu.

Atas gangguan sistem itu, perusahaan akan mempersiapkan penjelasannya. Perlu diketahui, di Jepang Starbucks memiliki 1.000 gerai tersebar di berbagai kota.

Terpisah dikabarkan, peminum kopi Starbucks tak sebanyak beberapa waktu lampau. Meski perusahaan asal Seattle, Amerika Serikat ini membukukan kenaikan laba 25 persen di kuartal terakhir tahun lalu, pertumbuhan pendapatan di lokasi yang sudah mapan hanya 5 persen.

Troy Alstead, Chief Financial Officer Starbucks mengatakan, pertumbuhan penjualan lebih lambat terimbas tren belanja online yang terus meningkat. Ini menyebabkan masyarakat lebih jarang menyambangi pusat perbelanjaan atau gerai Starbucks.

Namun Chief Executive Officer (CEO) Howard Schultz mengatakan, kelebihan Starbucks adalah tidak bisa digantikan oleh pembelian online. Dia yakin, mendatang lebih banyak orang datang ke gerai itu sendiri. Selain itu, dia mengklaim, bisnis kartu pelanggan juga terus naik.

Untuk mengundang lebih banyak pengunjung, Starbucks selama ini tak hanya memperkaya menu kopi tapi juga membenahi sajian roti isi dan kue. Alstead bilang, resep baru croissant yang dijual juga lebih banyak disukai saat ini.

Starbucks yang memiliki 20.000 gerai di dunia, berencana memperluas bisnis dengan membuka gerai teh. Gerai teh pertama dibuka di New York akhir tahun lalu.

Penjualan Starbucks di AS naik 5 persen year on year di kuartal akhir tahun lalu. Sementara penjualan di Eropa masih melandai. Namun penjualan di China dan kawasan Asia Pasifik berhasil menanjak 8 persen. (bh/berbagai sumber)