Dampak Corona, Kesempatan Pelaku Usaha Penuhi Pasar Lokal

Dampak Corona, Kesempatan Pelaku Usaha Penuhi Pasar Lokal

Kresnayana Yahya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Penyebaran virus Corona di China berdampak signifikan terhadap industri dan perdagangan di Indonesia. Pasalnya, China menjadi salah satu tujuan ekspor Jawa Timur  terbesar saat ini. Kerjasama dagang ini telah berlangsung kurang lebih dari lima tahun.

“Untuk membuka pasar baru dan mencari daerah tujuan baru untuk ekspor ini membutuhkan tenaga ekstra,” ujar Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspektive Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (7/2/2020).

Menurut Kresnayana, menutup sumber logistik ini adalah hal yang kurang baik. Karena, ekspor Jatim ke China ini dapat dikatakan salah satu driver mata rantai perdagangan di Indonesia.

Secara positif, kata Bapak Statistika itu, momen ini merupakan kesempatan bagi pelaku usaha untuk menyeimbangkan antara ekspor dan impor nasional. Artinya, ini jadi kesempatan untuk mencukupi kebutuhan pasar lokal.

“Seperti kita ketahui, saat ini banyak daerah di Indonesia yang belum digarap. Contohnya ekspor hasil laut. Produk-produk olahan laut ini bisa kita jual ke Sumatera atau Indonesia wilayah Timur yang potensi pasarnya belum dimaksimalkan sampai sekarang,” terang dia.

Kresnayana juga mengatakan, di bidang impor, saat ini industri dan perdagangan Jatim juga dapat menghidupkan bisnis lokal. Dicontohkan impor bahan-bahan elektronik yang nilainya bisa mencapai USD 10 miliar. Sedang untuk bahan-bahan permesinan angkanya mencapai USD 9,8 miliar.

“Untuk bahan-bahan besi dan baja, nilainya bisa mencapai USD 2 miliar lebih. Jelas ini berdampak pada dunia ekspor dan impor di Jatim,” tegas Kresnayana.

Selain ekspor dan impor, bidang lain yang terdampak penyebaran virus Corona adalah pariwisata. Dengan adanya pemutusan penerbangan dari dan menuju Negara China, hal ini bakal menurunkan sektor pariwisata.

Pun beberapa komuditas seperti bawang putih yang terdampak. Harga stabil bawang putih di pasaran sekitar Rp 20 ribu per kilogram. Namun, saat ini harganya bisa mencapai Rp 55 ribu per kilogram.

Kata Kresnayana, angka-angka ini mau menggambarkan, jika hari ini para pelaku usaha di Indonesia telah mempersiapkan permintaan volume perdagangan yang jatuh antara Maret dan April. Karena di bulan-bulan itu masyarakat dihadapkan dengan Bulan Ramadan dan Hari Raya Lebaran.

“Pelaku usaha sekarang sudah menyiapkan stok produk hingga bulan Maret. Keadaan pembatasan perdagangan dengan China ini diperkirakan sampai akhir April. Jelas hal ini mempengaruhi rantai perdagangan kita. Jadi kita jangan salah persepsi dengan curiga jika ada permainan harga dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan prinsip dagang, karena makin sedikit stok barangnya,” pungkas Kresnayana. (wh)