Cukai Rokok Jatim Tembus Rp 108 T

 

Cukai Rokok Jatim Tembus Rp 108 T

Satu dasarwarsa pemasukan cukai rokok melonjak drastis lebih dari 10 kali lipat. Dari catatan Dinas Perkebunan Jatim cukai rokok telah mencapai Rp 108 triliun.

Menurut Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Moch Samsul Arifien, cukai rokok Rp 108 triliun ini jauh melebihi keuntungan perusahaan pemerintah (BUMN) yang hanya Rp 35 triliun.

“Artinya bisnis rokok menjadi penting karena selain menguntungkan pabrik rokok, juga memberikan keuntungan besar bagi pemerintah dari cukai rokok yang didapatkan,” katanya, Selasa (22/4/2014).

Kendati cukai rokok sudah cukup tinggi, terang Samsul, produksi tembakau Indonesia masih minim, yakni sekitar 200 ribu ton. Jumlah itu masih kalah jauh dengan Amerika yang mencapai 500 ribu ton, terlebih dengan China yang mencapai 2,4 juta ton.

 Dari produksi nasional tersebut, tembakau Jawa Timur menyumbang sebesar 120 ribu ton atau setara 60 persen. Dengan potensi tembakau Jatim yang masih berikan kontribusi tinggi diharapkannya agar tembakau Jawa Timur tidak bergeser dan jangan sampai punah.

“Banyak tembakau di luar Jatim yang hilang atau punah seperti tembakau Deli (Sumatera), tembakau Voorstern landen (Klaten) dan menurunnya areal tembakau Palembang, Lampung, Sulawesi Selatan. Untuk itu tembakau asli Jatim harus dibudidayakan,” tegasnya.

Salah satu langkah Dinas Perkebunan Jatim dalam upaya untuk melindungi tembakau, maka pada 2014 diusulkan kepada Kemenkumham RI untuk pemberian sertifikat perlindungan IG (Indikasi Geografis) terhadap tanaman tembakau yang spesifik pada suatu daerah.

“Jika cukai rokok kini telah mencapai Rp 108 triliuun, tahun ini target penerimaan cukai rokok kembali ditingkatkan sebesar Rp 116,3 triliun,” ujar dia.

 “Kami yakin penerimaan cukai tahun ini dapat mengulang sukses tahun lalu. Hitungan kami kira-kira mencapai Rp 117,2 triliun, atau hampir 101 persen dari target Rp 116,3 triliun,” imbuh Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai, Susiwijono Moegiarso.

Naiknya target cukai 2014, sebut dia, dipengaruhi oleh pemilihan umum calon legislatif dan pemilihan presiden. Tren konsumsi rokok di tahun politik, kata dia, selalu meningkat.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai memperkirakan di 2014 produksi rokok akan meningkat menjadi 360-362 miliar batang, naik 20 miliar dari produksi 2013 sebesar 341 miliar batang.

Meningkatnya produksi rokok tersebut berbanding lurus dengan penjualan cukai pita rokok. Di kuartal pertama 2014, penerimaan cukai mencapai Rp 27,52 triliun atau sekitar 23,67 persen dari target cukai. Dari jumlah tersebut, Rp 26,4 triliun berasal dari cukai rokok dan sisanya Rp 1,1 triliun adalah cukai dari minuman mengandung etil alkohol.

Data Dinas Perkebunan Jatim, produksi rokok secara nasional terus mengalami peningkatan. Tahun 2012 produksi masih di kisaran 280 miliar batang. Tahun 2013 lalu, produksi rokok sudah naik menjadi 341 miliar batang per tahun. Dengan asumsi kebutuhan bahan baku perbatang satu gram tembakau, maka kebutuhan tembakau mencapai 330.000 ton per tahun. (kmf/wh)