Cuaca Tak Menentu, Produksi Tembakau Jatim Turun 25 Persen

 

Cuaca Tak Menentu, Produksi Tembakau Jatim Turun 25 Persen

Kondisi cuaca yang tidak menentu pada tahun ini membawa dampak besar bagi produksi tembakau. Sejumlah wilayah di Jawa Timur diperkirakan mengalami gagal panen akibat tidak menentunya cuaca sepanjang tahun 2014.

Asosiasi Petani Tembakau Indonesia memerkirakan penurunan produksi tahun ini diprediksi mencapai 20-25 persen. Dampak dari tidak menentunya cuaca ini juga berpengaruh pada petani yang mulai mengurangi sedikit areal lahan tembakau.

“Beberapa bulan kemarin hujan turun tidak menentu dan menyebabkan tanaman tembakau rusak,” terang Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Bondowoso, Hafid Aziz, Selasa (2/9/2014).

Hafiz mencontohkan, pihaknya juga mengurangi luas tanam tembakau dari 6 hektar tahun lalu, tahun ini berkurang menjadi 1,5 hektar.

Rata-rata produksi tembakau di Jawa Timur pertahunnya mencapai 170.000-180.000 ton. Sementara tahun lalu produksi tembakau mencapai 180.000 ton, dan tahun ini diperkirakan menurun hingga 20-25 persen.

Menurutnya, menanam tembakau harus mengikuti “pranoto mongso”. Jika cuaca tidak memungkinkan untuk menanan tembakau, petani harus beralih menanam komoditas lain. Tanam tembakau terpaksa dikurangi agar petani bisa maksimal tanamaman tembakau hingga panen.

“Persoalannya, pada saat musim tanam, cuacau tidak menentu. Dan ini yang membutuhkan pengendalian ekstra pada musim tanam. Situasi ini berbeda dengan musim panen saat ini, musim sangat baik,” paparnya.

Penurunan produksi tembakau tahun ini diperkirakan membawa dampak pada harga jual ke pabrik rokok. “Tentu kami berharap hukum suply and demand. Dimana ketika komoditi berkurang, harga bisa naik. Tapi sampai sekarang belum ada kata sepakat,” lanjut pria yang juga menjabat Wakil Sekretaris Gabungan Petani Perkebunan Indonesia Jawa Timur itu.

Dia mencontohkan harga ideal tembakau rajang Madura berkisar Rp 55.000 per kilogram (kg). Sementara harga tertinggi saat ini hanya dikisaran Rp 40.000 per kg. Untuk tembakau rajang Paiton, idealnya dikisaran Rp 40.000 per kg, sedangkan saat ini harga tgertinggi dipatok Rp 30.000 per kg.

Berdasarkan data dari Dinas Perkebunan, permintaan tahun lalu mencpai 100.000 ton per tahun. Sedangkan tahun ini tahun ini permintaan dikisaran 80.000 ton per tahun. (wh)