Cuaca Buruk Sebabkan Impor Kedelai Naik

Cuaca Buruk Sebabkan Impor Kedelai Naik

 

Cuaca buruk yang terjadi di Indonesia menganggu produksi kedelai nasional.  Tahun ini, kran impor kembali akan kembali dibuka lebar-lebar.

“Keran impor kedelai berpeluang untuk dibuka lebar-lebar karena produksi lokal terganggu cuaca buruk. Namun, areal tanam kedelai yang meningkat maka produksi kedelai nasional ditargetkan sebesar 1,5 juta ton,” kata Ketua Dewan Hortikultura Nasional (DHN) Benny Kusbini, Kamis (20/3/2014).

Pada 2013, produksi mencapai angka 807 ribu ton dari total kebutuhan 2,1 juta ton. Artinya, jika pada 2013 sebanyak 1,2 juta ton masih impor dari pelbagai negara.

Menurut dia, beberapa daerah utamanya di belahan Indonesia Timur terkendala dengan cuaca, sehingga petani masih kesulitan melakukan proses pengeringan kedelai. Kini, pihaknya masih menunggu laporan lebih detail mengenai berapa volume kedelai yang mengalami hambatan proses pengeringan, dimana saja sebarannya, dan berapa potensi kegagalan akibat cuaca buruk tersebut.

Jika secara nasional masih kekurangan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur tahun ini menargetkan produksi kedelai bisa swasembada. Produksi dipatok sebesar 490.059 ton dari total luas lahan 344.000 hektare atau naik dibanding tahun lalu sebesar 337.283 ton dari lahan 270.000 hektare.

Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Jatim, Achmad Nurfalakhi mengatakan, konsumsi kedelai masyarakat Jatim saat ini mencapai 11,25 kilogram per kapita per tahun atau sekitar 428.188 ton per tahun. Artinya, pada tahun ini Jatim bisa mencapai swasembada kedelai karena produksi diperkirakan lebih besar dari kebutuhan konsumsi.

“Produksi kedelai Jatim bisa memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat Jatim. Tahun lalu produksi masih kurang sekitar 90.900 ton, maka harus dipenuhi dari impor,” ujarnya. Menurut penuturannya, dengan adanya Harga Pokok Pembelian (HPP) kedelai yang mencapai Rp7.400 per kg, masyarakat mendapatkan kepastian harga saat panen, sehingga mereka mulai tertarik menanamnya.

Terlebih dalam pembelian kedelai, Bulog selalu menyesuaikan dengan harga yang sedang berlaku dipasaran. Pada tahun 2013 misalnya, dari penyerapan kedelai Bulog Divisi Regional Jatim sebesar 201 ton, seluruhnya dengan harga diatas HPP, yaitu sekitar Rp7.950-Rp 8.400 per kg. (ram)