CT : Kegagalan adalah Sahabat Terbaik

CT : Kegagalan adalah Sahabat Terbaik
Chairul Tanjung mengisi acara dialog interaktif dalam rangka pra muktamar ke-33 NU “Membangun Kemandirian Ekonomi Rakyat” di Masjid Al-Akbar Surabaya, Jumat (3/7/2015) malam. arya wiraraja/enciety.co

Chairul Tanjung, bos CT Corp, menuturkan sahabat tidak selalu harus menyenangkan, yang susah pun bisa dijadikan sahabat. Bahkan kesusahan tersebut merupakan sahabat terbaik jika ke depannya bisa membuat suatu kemajuan dan kebaikan.

Chairul Tanjung atau yang karib disapa CT menyampaikan hal itu saat melakukan dialog interaktif dalam rangka pra muktamar ke-33 NU “Membangun Kemandirian Ekonomi Rakyat” di Masjid Al-Akbar Surabaya, Jumat (3/7/2015) malam.

Selama karirnya sebagai pengusaha, CT menganggap kegagalan adalah sahabat terbaiknya. Kegagalan selalu ia rangkul saat jatuh. CT sadar bila kegagalan adalah suatu proses untuk bisa lebih maju lagi ke depannya.

“Orang biasanya lihatnya pas enaknya saja. Kalau ditanya berapa kali saya gagal, saya katakan bukan berapa kali, tetapi sering,” ujar CT dalam kegiatan yang dihadiri sekitar 2.000 warga NU tersebut.

Kata dia, kegagalan awalnya memang pahit, tetapi bila rasa pahit itu terus dirasakan, maka yang adalah rasa putus asa. Bila Kegagalan dianggap sebagai musuh maka seseorang akan sulit untuk bangkit lagi.

“Jadikan kegagalan sebagai sahabat baik. Jadinya kita tidak putus asa,” kata CT yang datang bersama istri dan anaknya.

CT menyarankan agar kegagalan selalu dirangkul agar seseorang bisa belajar dari kegagalan dan mampu bangkit lagi. Bila sudah bangkit lagi, maka seseorang akan belajar dari kegagalan tersebut, terus dan terus setiap kali jatuh. “Kegagalan adalah learning process,” tandas CT.

CT juga mengapresiasi pemikiran maju NU yang dinilainya berpandangan jauh ke depan. Pemikiran itu masih relevan termasuk dalam menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir tahun ini.

“Tahun 1916, para pendiri NU sudah berpikir luar biasa. Mereka sadar bahwa kemajuan bangsa tidak akan tercapai dan bangkit kalau tidak ada kepintaran dan kecintaan pada bangsa dan negara,” ujar CT.

CT menuturkan, pemikiran NU masih relevan sampai sekarang meski pemikiran itu sudah berumur lebih dari 100 tahun. Suatu bangsa bisa mengubah nasib kalau bangsa itu mau berjuang atau mau mengubahnya.

Ia mengatakan perjuangan saat ini bukan seperti perjuangan pada masa lalu. Perjuangan yang sekarang adalah bagaimana bangsa ini harus menang bersaing termasuk dalam MEA.

“Tetapi masyarakat belum 100 persen siap menghadapi MEA. Masih banyak langkah-langkah yang harus dilakukan agar masyarakat sadar akan MEA,” ujar pemilik CT Corp ini.

CT optimistis MEA bakal akrab dengan masyarakat Indonesia. CT mengatakan bahwa 99,2 persen barang yang diperdagangkan saat ini sudah 0 persen bea masuk impornya. Sehingga tidak banyak perbedaan antara kondisi sekarang dengan kondisi MEA nantinya.

Dalam acara yang dihadiri sekitar 2.000 orang itu, CT meminta pemerintah tetap mengawasi produk-produk sensitif yang masuk ke Indonesia. Salah satu contohnya adalah produk pertanian, jangan sampai produk dari luar masuk ke Indonesia tanpa hambatan (barrier).

“Pemerintah harus membatasi produk pertanian dari luar demi para petani kita. Khusus untuk Jatim, pertanian harus dilindungi,” katanya.

Selain produk pertanian, tenaga kerja juga harus menjadi perhatian. Jangan sampai tenaga kerja seperti dokter, guru, dan dosen asing (ASEAN) bebas berpraktik dan mengajar di Indonesia.

“Harus di-barrier dengan syarat-syarat tertentu seperti harus bisa berbahasa Indonesia dan lain sebagainya. Pemerintah harus sharing dan caring terhadap MEA,” kata CT. (wh)