CSR Perusahaan Dorong Peningkatan Kualitas UMKM

CSR Perusahaan Dorong Peningkatan Kualitas UMKM

foto:arya wiraraja/enciety.co

Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur dalam satu tahun mencapai Rp 1.400 triliun. Namun dengan upaya perusahaan swasta membangkitkan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), nilai PDRB dapat meningkat 5 persen atau sekitar Rp 70 triliun.

“Dengan dana itu, kita bisa membangun berbagai aspek, seperti sekolah dan berbagai fasilitas lain yang dapat meningkatkan kehidupan masyarakat,” ujar Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Bincang Kompas bertajuk “Keberpihakan Swasta Dalam Mengokohkan Posisi UMKM Di Jatim” di Hotel Santika Premiere Gubeng, Kamis (5/9/2019).

Kresnayana mencatat, ada tiga hal yang dapat dilakukan pihak swasta untuk mendorong kualitas UMKM. Pertama, menyisihkan energi, dana dan usaha untuk meningkatkan peran social development atau program pemberdayaan masyarakat.

Kedua, sebut dia, pengembangan masyarakat atau people development menjadi bagian upaya meningkatkan brand equity usaha mereka.

“Jadi, ini bukan semua adalah pelanggan setia produk rokoknya Sampoerna. Artinya, orang itu men-ssuport bukan karena produknya saja. Tapi apresiasi itu sudah pada tingkat upaya transformasi yang telah dilakukan Sampoerna untuk perkembangan masyarakat di Jawa Timur,” tegas pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.

Ketiga, berkat segala upaya yang dilakukan tersebut, tebaran energy, amal, serta inspirasi yang telah ikut membangun masyarakat ini patut diakui dan diapresiasi.

“Artinya, orang itu memberi penghargaan kepada perusahaan bukan hanya melihat kualitas produknya saja. Jadi jika kita hitung peran produk tembakau dan lain sebagainya itu sekitar 10-12 persen memberikan kontribusi membuka lapangan pekerjaan, ikut memajukan industri ritel, memajukan industri jasa angkut, dan lain sebagainya,” kupas Kresnayana.

Kresnayana juga menyoroti empat hal dalam program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahan. Pertama, perusahaan makin pengalaman mendekati UKM yang membutuhkan. Kedua, sudah ada lesson learned (pelajaran), testimony, dan hasil binaan. Ketiga, ada peningkatan akses, peningkatan harga diri, dan panduan teknis. Keempat, ada kelompok komunitas yang belajar, maju, dan berusaha bersama.

Fakta yang dibeberkan Kresnayana itu diamini Aminah, pelaku usaha Pahlawan Ekonomi. Perempuan ini sebelumnya tak menyangka bisa membuat dan menjual semanggi instan.

“Saya dulu penjual semanggi gendong. Keluar kampung masuk kampung. Saya ikut PE (Pahlawan Ekonomi) tahun 2012. Saya bisa karena ikut pelatihan rutin di Kaza Kapas Krampung,” katanya.

Aminah mengaku sangat bersyukur dengan inovasi yang telah dilakukan. Sebab, lewat usahanya kini dia bisa memperbaiki taraf kehidupan keluarganya.

Indra Refipal, Manager Sustainability PT HM Sampoerna TBk, menyatakan perusahaannya sangat mendukung keberadaan UKM. “Kami ingin wirausahawan tumbuh karena keberadaannya menyokong perekonomian berbasis usaha rakyat,” tegasnya.

Kata dia, bukti keseriusan perusahaanny salah satunya dibuktikan dengan keberadaan Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC). “Itu merupakan fasilitas agar wirausaha lebih maju,” tandasnya. (wh)