CSIS: Impor Tak Selalu Berarti Buruk

CSIS: Impor Tak Selalu Berarti Buruk
Yose Rizal Damuri, Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS)

 

Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri mengajak agar masyarakat menilai kegiatan impor lebih proporsional. Menurut dia, impor tak selalu berarti buruk.

“Kita seharusnya hati-hati dengan kesimpulan tersebut. Tidak masalah kalau kita banyak impor dari satu negara, tapi menutup kekurangannya ini dengan ekspor lebih banyak ke negara lainnya,” ujarnya.

Dalam Seminar Publik mengenai Dampak Free Trade Agreement (FTA) di Indonesia yang diselenggarakan di Unair, Kamis (20/3/2014) lalu, ia menyimpulkan bahwa dampak FTA tidak terlalu positif buat perdagangan Indonesia.

Yose menjelaskan, neraca perdagangan sebaiknya tidak dilihat sebatas dari sisi hubungan bilateral antara dua negara saja. “Tapi harus dilihat dari keseluruhan atau total,” katanya.

Ia mencontohkan, tidak perlu mempermasalahkan impor, asalkan kemudian ekspor untuk menutupi pembayaran. “Secara perhitungan, ini masih positif. Masih surplus,” imbuhnya.

Selain itu, masyarakat sebaiknya tidak menggunakan kaca mata prinsip merkantilisme. Lebih jelasnya, Yose mengatakan, tidak bisa lagi berpatokan pada pepatah bahwa ekspor itu baik, sementara impor itu jelek. “Karena impor tak selalu berarti buruk, hal itu juga memberikan manfaat pelaku usaha. Mereka bisa dapatkan harga yang lebih murah,” ujarnya.

Hal itu berdampak pada ketepatan produsen dalam memproduksi barang, sebab mudah mendapatkan bahan baku penolong yang murah. Efek berikutnya, produsen akhirnya mampu meningkatkan produksi barang. Sehingga, kinerjanya semakin efisien.

Yose mengungkapkan, yang harus diperhatikan ialah prinsip trading value added. Dalam statistik perdagangan, Indonesia semestinya masuk ke dalam statistik perdagangan dalam nilai tambah. “Artinya, ada nilai tambah yang diberikan oleh satu negara ketika mereka melakukan produksi. Yakni berapa barang yang kita impor dan berapa persen yang kita gunakan untuk produksi ekspor,” paparnya.

Ternyata, lanjut Yose, nilai barang-barang impor Indonesia untuk ekspor lebih tinggi dibandingkan nilai barang untuk konsumsi domestik. “Ini berarti, semakin banyak impor, semakin banyak juga nilai ekspor kita. Bila impor kita meningkat, ekspor kita juga meningkat,” tandasnya.

Yose menambahkan, belum tentu impor yang didatangkan dari Tiongkok akan kembali untuk ekspor ke Tiongkok. “Kita perlu cermati fenomena trading value added. Contohnya Korea, yang sekarang maju di bidang elektronik. Dilihat neraca perdagangan Korea-Jepang, dia malah defisit. Sebab Korea banyak impor bahan baku dari Jepang daripada sebaliknya,” urainya. Namun, Korea mengekspor barang-barang jadi ke negara-negara ASEAN, AS, dan Eropa. “Kita harus melihatnya dari sisi value added dan network, bukan bilateral,” tegasnya.(wh)