Coklat Box Rahayu Tembus Pasar Antarpulau

Coklat Box Rahayu Tembus Pasar Antarpulau

Lilik Rahayu tuai berkah dengan jualan coklat box. Foto:sandhi nurhartanto/enciety.co

Berbagai kreativitas dan inovasi terus ditumbuhkan oleh Lilik Rahayu di produk coklat bikinannya guna meraih kepuasan para pelanggannya. Tidak hanya bentuk coklat yang bisa dibuat sesuai pesanan, melainkan juga box yang membungkus coklat produk bisa dibentuk sesuai selera.

“Saya tidak hanya menjual coklatnya saja, namun lebih dari itu. Saya juga membuat box sesuai pesanan untuk tempat coklatnya,” kata Lilik Rahayu kepada enciety.co saat ditemui di rumahnya di Kebraon Indah, Surabaya.

Rahayu coklat 2

Keahlian ibu dari dua anak ini, Favian Charlen dan Axelle Carney membuat box coklat membawa dirinya dinobatkan menjadi juara III Home Industry Pahlawan Ekonomi (PE) tahun 2015.

Istri dari Septwin Sixnarqi ini lalu menceritakan awalnya bergabung dengan dengan Pahlawan Ekonomi. Waktu itu, mantan karyawan Hotel Sheraton Surabaya tersebut, tidak sengaja bertemu Ketua Pahlawan Ekonomi Fatchul Mudjib, sewaktu dirinya masih bekerja di perusahaan garmen.

“Usai mengundurkan diri dari Sheraton pada 2010 lalu, saya kerja di garmen di kawasan Pondok Maritim. Disini saya bertemu Mas Mudjib yang akan nyablon kaos. Disini saya diajak bergabung dengan Pahlawan Ekonomi hingga sekarang,” tuturnya, mengenang.

Ia mengakui bila dirinya berkeinginan untuk bekerja namun secara mandiri. Lilik melihat bila kedua anak lakinya tersebut makin besar dan butuh perhatian seorang ibu. Akhirnya, dirinya memutuskan untuk keluar kerja kantoran dan lebih memilih membesarkan usaha rumahan coklat bikinannya.

Dengan persetujuan dari sang suami, Lilik Rahayu mulai belajar membikin coklat dari pelatihan Pahlawan Ekonomi dan terus berusaha memperkaya ilmunya dengan belajar di internet. Sejak awal, dirinya yakin akan masa depan cerah pada coklat bikinannya.

Namun, saat mengikuti pelatihan Pahlawan Ekonomi, ia mengerti bila packaging yang menarik akan mampu menaikkan harga jual produknya. Dengan bimbingan dari Muawal salah satu guru masak di Surabaya Hotel School (SHS) dan Timothy Lee, Lilik berhasil mengemas dan membuat coklat produknya menjadi lain dari biasanya.

“Muawal adalah teman saya di SMK. Beruntung ia ngajarin lebih agar coklat bikinan saya lebih enak. Dibantu Timothy Lee (kreator design grafis Kreavi) saya jadi lebih paham soal packaging,” tuturnya.

Kendati baru memenangi sejumlah penghargaan, Lilik terus berusaha mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Kata dia, untuk membuat coklat tidak butuh waktu terlalu banyak. Juga alat yang dibutuhkan tidak membutuhkan biaya yang besar. Yang dibutuhkan hanya kreativitas saja.

“Coklat saya identik dengan boks dan pesanan edisi natal banyak pesanan. Habis ini saya berencana membuat kue Valentine,” terusnya.

Dengan keahliannya membikin coklat boks tersebut, pesanan semakin banyak dan lumintu. Mulai dari PLN Embong Wungu, National Hospital, Balai Kota Surabaya, dan Sentra UKM MERR.

Per bulan untuk low season, Lilik mampu meraih omzet Rp 3 juta dan untuk hari besar mendapatkan keuntungan dua kali lipat. Misalnya, pesanan coklat untuk nikahan dan Lebaran hingga dirinya mempunyai dua pegawai untuk membantunya.

“Ini kemarin dapat pesenan coklat dari orang DPRD Samarinda sebanyak 5 ribu coklat. Dan mereka meminta box khusus untuk dibagikan di resepsi nikahan anaknya,” tukas wanita yang menjabat sebagai sekretaris Asosiasi Makanan dan Minuman Jawa Timur (AMJ) di bawah Dinas Koperasi dan UMKM Jatim. (wh)