Co-Working Space Jadi Jembatan Bisnis Baru di Surabaya

Co-Working Space Jadi Jembatan Bisnis Baru di Surabaya

Ferry Salanto. foto: arya wiraraja/enciety.co

Ketersediaan properti perkantoran di Surabaya relatif berlimpah. Dalam dua sampai tiga tahun ke depan menjadi kesempatan yang baik bagi penyewa untuk menempati gedung baru dengan harga sewa yang kompetitif.

Di sisi lain, di pasar perkantoran strata, investasi menjadi alasan utama pembeli untuk membeli produk properti tersebut. Kehadiran ruang kerja bersama yang saat ini sering disebut dengan co-working space diharapkan menjadi jembatan masuknya bisnis baru di Surabaya.

“Banyak yang berpendapat, jika hadirnya co-working space menjadi penghambat makin rendahnya jumlah serapan properti perkantoran di Surabaya. Namun, kenyataannya dengan hadirnya co-working space dapat berdampak positif bagi serapan properti perkantoran,” ujar Ferry Salanto, Senior Associate Director Colliers International dalam acara Press Luncheon Colliers yang diadakan di Four Points Hotel Surabaya, Jalan Embong Malang, Tunjungan Plaza 4, Surabaya, Rabu (29/1/2020).

Rata-rata, sambung Ferry, pemilik co-working space merupakan pemilik modal yang cukup besar. Dahulu, target pasar co-working space adalah para komunitas, perusahaan rintisan atau startup dan lain sebagainya.

“Sekarang, target dari co-working space telah berubah. Targetnya adalah company atau perusahaan yang lebih besar. Nah, para pemilik perusahaan ini juga berfikir, jika mereka membangun sendiri kantornya, pasti biaya yang dibutuhkan akan sangat besar. Jika dihitung biasa sewanya, jelas mereka lebih suka menggunakan co-working space,” ujar dia menambahkan.

Dalam kesempatan itu Ferry menjelaskan tingkat serapan dan hunian properti perkantoran 2019 di Surabaya. Tercatat jumlah serapan properti perkantoran hanya mencapai 68,6 persen atau turun sekitar 9 persen jika dihitung year on year (YoY). Di tahun 2020, akan ada total tambahan pasokan hampir 250 ribu meter persegi. Hal ini didapat melalui kontribusi dari 8 gedung perkantoran.

“Nah, menurunnya jumlah serapan ini diakibatkan oleh kenaikan tarif sewa yang belum tereflekaikan oleh pasar. Lantas, kenaikan tarif sewa ini lebih banyak diakibatkan oleh pasokan baru dan gedung-gedung perkantoran yang lama masih menahan tarif sewa,” papar Ferry. (wh)