Citilink Terbangkan 8 Juta Penumpang sepanjang 2014

Citilink Terbangkan 8 Juta Penumpang Sepanjang 2014
foto:wikimedia

Maskapai penerbangan Citilink menerbangkan sebanyak 8 juta penumpang sepanjang tahun 2014. Angka ini hampir menyentuh target ditetapkan maskapai penerbangan berbiaya murah itu, sebanyak 8,2 juta penumpang.

“Memang sedikit lagi dari target yang ditetapkan, namun pencapaian 8 juta penumpang selama 2014 sudah merupakan prestasi yang luar biasa jika melihat kondisi dunia penerbangan nasional yang tergolong lesu,” ujar Vice President Corporate Communications Citilink Indonesia Benny S. Butarbutar dalam keterangan persnya, Jumat (23/1/2015).

Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, katanya, jumlah penumpang yangn dilayani Citilink mengalami peningkatan sekitar 48,1 persen. Saat itu, Citilink melayani 5,4 juta penumpang. Sementara, pada 2012, Citilink melayani 2,8 juta penumpang.

“Frekuensi penerbangan harian juga naik signifikan dari 120 penerbangan menjadi 200 penerbangan, ini dengan mengutamakan penambahan rute atau peningkatan frekuensi penerbangan,” jelasnya.

Di luar itu, tambahnya, maskapai Citilink juga mengklaim sekitar 82 persen penerbangannya tepat waktu. Meningkat ketimbang 2013 yang sebesar 80 persen. Sedangkan tingkat isian penumpang atau seat load factor (SLF) tercatat 80 persen atau naik 2,5 persen. “Rute penerbangan juga bertambah cukup signifikan, dari 29 rute penerbangan pada 2013, menjadi 39 rute penerbangan di tahun 2014,” tuturnya.

Kini, Citilink sudah terbang ke 23 destinasi, naik dari sebelumnya 20 destinasi. Ini berkat pembukaan rute baru ke Bandung, Solo dan Palangkaraya. “Pangsa pasar Citilink juga meningkat dari 15,3 persen pada 2013 menjadi 17,6 persen di seluruh rute yang diterbangi Citilink,” pungkasnya.

Tarif Terendah 40 Persen

Selain itu, kini, maskapai ini telah memberlakukan tarif penerbangan batas bawah atau tarif terendah sebesar 40% dari tarif batas atas sesuai pengelompokkan yang ditentukan pemerintah di semua rute penerbangannya. Pemberlakuan itu telah diimplementasikan anak perusahan Garuda Indonesia tersebut sejak 15 Januari 2014, menyusul lahirnya Peraturan Menteri Perhubungan No 91/2014 pada 30 Desember 2014.

“Pemberlakuan tariff batas bawah tersebut sesuai dengan ketentuan Kementrian Perhubungan yang mengharuskan maskapai penerbangan wajib menerapkan batasan tarif normal yang merupakan tarif jarak terendah sampai tarif jarak tertinggi,” ujar pelaksana tugas President & CEO Citilink Indonesia Albert Burhan.

Menurutnya, pemberlakukan tarif batas terendah seperti yang diminta pihak regulator sudah diberitahu kepada semua perwakilan Citilink di seluruh Indonesia dan sudah berlaku serentak sejak Kamis (15/1) sesuai aturan baru dari Kemenhub yang dikeluarkan pada 30 Desember 2014.

Lebih jauh Albert mengatakan, hendaknya Kementerian Perhubungan juga mengawasi secara ketat implementasi dari PM No.91/2014 terhadap semua maskapai penerbangan sehingga aturan tersebut betul-betul di patuhi dan tidak ada yang melanggar.

Citilink menyadari bahwa secara umum aturan itu dikeluarkan sebagai upaya untuk memperbaiki iklim dunia penerbangan nasional agar menjadi lebih baik,” kata Albert yang sehari-hari menjabat sebagai Direktur Keuangan Citilink.

Sesuai PM No.91/2014, tarif penumpang pelayanan kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri di hitung berdasarkan tiga komponen utama, yaitu tarif jarak; Pajak Pertambahan Nilai (PPN); dan Iuran Wajib Asuransi Pertanggungan Kecelakaan Penumpang (IWJR).

Sementara itu, katanya, besaran tarif berdasar kelompok pelayanan dibagi dalam tiga kelas pelayanan, yaitu Full Service dengan penetapan tarif 100% dari tarif maksimum; kelompok pelayanan Medium Service tarif setinggi tingginya 90 % dari tarif maksimum dan LCC (no frills services) penetapan tarif setinggi tingginya 85 % dari tarif maksimum. (wh)