Ciputra Property Operasikan Rafles Jakarta Hotel

Ciputra-World-Skyline
PT Ciputra Property Tbk mengoperasikan Raffles Jakarta Hotel di kawasan superblok Ciputra World (CW) 1, Kuningan, Jakarta Selatan. Hotel yang menelan investasi Rp 1,5 triliun ini berkapasitas 173 kamar. Direktur PT Ciputra Property Tbk Artadinata Djangkar mengatakan, investasi pembangunan Raffles Jakarta Hotel terbilang cukup mahal. Untuk biaya pembangunan membutuhkan dana sebesar Rp 1,2 triliun. Sedangkan investasi lahan sebesar Rp 300 miliar. Dengan demikian, total investasi yang diserap untuk menyiapkan hotel ini mencapai Rp 1,5 triliun.”

Investasinya cukup mahal. Tapi sebagai pengembang, kami melihat hotel ini berstandar dan berkualitas tinggi. Luas kamarnya saja 60 meter persegi,” ujar Artadinata usai pembukaan Raffles Jakarta Hotel.

Raffles Jakarta Hotel sendiri memiliki 173 kamar dan ruangan suites mewah, dengan ukuran kamar termasuk yang terluas di Jakarta. Dari 173 kamar dan ruangan suites yang ada, terbagi ke dalam 129 kamar dengan ukuran 60 m2 yang terdiri dari 68 kamar tipe Raffles rooms dan 40 kamar tipe Raffles garden view. Selain itu, ada pula 44 ruangan suites dengan luasan 390 m2, yang terdiri dari 22 ruangan tipe Artist suites, 11 ruangan tipee Gallery suites, 10 ruangan garden view suites, dan 1 ruangan tipe Raffles suites. “Setiap kamar yang ada di hotel ini merupakan perwujudan dari tempat peristirahatan seniman Hendra Gunawan, yang kaya akan nuansa keindahan alam Indonesia, dan menawarkan unsur kenyamanan terbaik,” kata Artadinata.

Kehadiran hotel Rafles Jakarta Hotel, lanjut dia, melengkapi 12 hotel dan resor dibawah naungan Hotel Raffles Singapura yang tersebar di China, Kamboja, Filipina, Saudi Arabia, Seychelles, Dubai, Paris, dan Istambul.
Menurut Artadinata, jumlah hotel sekelas Raffles Jakarta Hotel di Indonesia, tidak terlalu banyak. Meski demikian, lanjut dia, beberapa tahun terakhir, Jakarta sudah menjadi kota bisnis internasional, kebutuhan terhadap hotel seperti ini, selalu ada. “Pasarnya tipis. Karenanya, suplainya sendiri tidak bisa habis-habisan. Kalau terlalu banyak hotel baru, malah akan melemahkan pasar. Pangsa pasar hotel bintang enam sendiri, hanya sekitar 15 persen,” tambah dia. (bst)