China Desak IMF Beri Peluang Negara Berkembang

China Desak IMF Beri Peluang Negara Berkembang
Direktur Pelaksana IMF, Christine Lagarde, saat berbicara di National Press Club di Washington, Senin (13/1/2014)

 

China menyerukan negara-negara anggota IMF untuk berkomitmen memberikan kesempatan yang lebih banyak kepada pasar negara berkembang peminjam. Berdasarkan laporan Reuters, hal itu diungkapkan setelah anggota parlemen AS mengatur kembali reformasi bersejarah yang akan memberikan negara berkembang suara lebih besar.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hong Lei, menyatakannya sebagai kritik langsung buat Amerika Serikat, anggota IMF terbesar dan terkuat. Sebab, para anggota parlemen AS gagal menyepakati langkah-langkah pendanaan yang dibutuhkan Senin (13/1/2014) lalu. Meskipun Hong tidak menyebutkan AS secara terang-terangan, dana tersebut dipandang penting bagi reformasi agar bergerak maju.

Kongres AS harus menandatangani pendanaan IMF supaya dapat menyelesaikan reformasi 2010. Reformasi itulah yang akan membuat China, sebagai anggota ketiga terbesar IMF, mengubah papan percaturan IMF. Sehingga dapat mengurangi dominasi Eropa Barat.

Perubahan itu juga kelak memberikan suara yang lebih besar ke negara-negara seperti Brazil dan India, untuk mencerminkan bobot ekonomi mereka yang tengah tumbuh.

“Kuota reformasi IMF akan jadi sebuah keputusan penting yang pernah dibuat oleh organisasi,” kata Hong, pada jumpa pers sehari-hari. Para anggota organisasi yang bersangkutan, lanjutnya, harus sungguh-sungguh melaksanakan keputusan. Serta menghormati dan meningkatkan suara dan keterwakilan negara-negara berkembang dalam IMF.

Berbicara di National Press Club di Washington, Direktur Pelaksana IMF, Christine Lagarde mengatakan hal itu sebagai sesuatu yang membingungkan. Sebab, dana IMF tidak termasuk dalam tagihan belanja yang disetujui oleh Kongres AS pada Senin (13/1/2014).

“Saya sangat berharap itu adalah masalah waktu dan bukan keputusan untuk mengecualikan IMF,” kata Lagarde. Ia pun menambahkan, ia percaya Amerika Serikat masih berkomitmen untuk mendukung dana.

Reformasi hak suara, yang dikenal sebagai kuota, tidak dapat dilanjutkan tanpa Amerika Serikat. Sebab negara adidaya itu satu-satunya pemegang pembagian suara di IMF.

Beberapa anggota parlemen juga telah menyuarakan keprihatinan tentang keseriusan IMF membantu negar-negara Eropa menghadapi krisis ekonominya. Lambannya langkah tersebut mengindikasikan Kongres enggan terburu-buru untuk menyetujui perubahan.

Departemen Keuangan India, menurut sebuah sumber, mengatakan ‘kecewa’ pada kurangnya tindakan Kongres. Sementara seorang pejabat Departemen Keuangan Korea Selatan, yang juga menolak menyebutkan namanya, mengatakan penyesalan. “Kami menghargai upaya pemerintah AS, namun kami menyesali fakta ukuran dana yang diusulkan jatuh melalui di Kongres pada menit terakhir,” ungkapnya.

Pejabat Korsel itu melanjutkan, reformasi kuota IMF merupakan hal penting untuk diatasi dan kami berharap masalah ini akan dibahas di tingkat G-20 dengan batas waktu akhir Januari dalam waktu dekat,” katanya.

Negara-negara berkembang telah lama mencurigai IMF dengan isu ‘mempromosikan privatisasi bencana’ yang membikin rumit transisi dari komunisme bagi beberapa negara berkembang di awal 1990-an. Serta mendorong pemotongan anggaran yang akhirnya memperburuk krisis utang di Asia dan Amerika Latin beberapa tahun kemudian.

Kecurigaan itu makin diperparah oleh struktur kekuasaan pada saat berdirinya IMF tahun 1944. Struktur ini dibentuk oleh Amerika Serikat dan Eropa, pemenang Perang Dunia II.(wh)