China-Amerika Sepakat Atasi Perubahan Iklim Global

China-Amerika Sepakat Atasi Perubahan Iklim Global

 

Cina dan Amerika Serikat, dua negara penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia sepakat untuk bekerja sama mengatasi efeknya dalam perubahan iklim global.

“Cina dan Amerika Serikat bekerja sama berkolaborasi meningkatkan dialog kebijakan, membatasi emisi gas rumah kaca,” demikian bunyi pernyataan bersama yang dikeluarkan Cina-AS di akhir kunjungan Menteri Luar Negeri John Kerry di Beijing, Sabtu, 15 Februari 2014.

Kedua pihak “berkomitmen melakukan upaya signifikan menghasilkan hal-hal konkret” pada Dialog Ekonomi dan Strategis AS-Cina ke-enam tahun ini, demikian pernyataan tersebut.

“Kedua pihak komitmen untuk berkontribusi secara signifikan sukseskan upaya global 2015 dalam memenuhi tantangan ,” demikian pernyataan bersama itu.

Perundingan internasional untuk menyepakati lanjutan Protokol Kyoto 1997, kesepakatan internasional pertama dan satu-satunya untuk mengatasi perubahan iklim akan diselenggarakan di Paris tahun depan. Amerika Serikat  tidak pernah meratifikasi kesepakatan Kyoto itu.

Pakta global baru termasuk janji untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan langkah-langkah  untuk memberdayakan negara miskin dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim

“Kerja sama Cina-Amerika Serikat ini unik. Kami berharap ini akan menjadi contoh bagi kepemimpinan dan keseriusan global dalam negosiasi iklim tahun depan,” kata Kerry kepada wartawan sebelum bertolak ke Jakarta.

Laporan Panel Antar Pemerintah soal Perubahan Iklim September lalu menegaskan manusia adalah penyebab utama pemanasan global. Diperkirakan dampak emisi gas rumah kaca akan dirasakan manusia selama berabad-abad.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengatakan laporan itu merupakan desakan bagi negara-negara yang selama ini hanya fokus untuk memacu ekonomi ketimbang memerangi perubahan iklim, agar mencapai kesepakatan bersama mengatasi pemanasan global 2015.

Ban berusaha membangkitkan kembali perdebatan perubahan iklim global dan meningkatkan peran PBB.  Dia menunjuk mantan walikota New York Michael Bloomberg , mantan presiden Ghana John Kufuor dan mantan perdana menteri Norwegia Jens Stoltenberg sebagai utusan khusus untuk perubahan iklim . (bh)