Cetuskan Teori Baru, Risma Terima Doktor Honoris Causa dari ITS

Cetuskan Teori Baru, Risma Terima Doktor Honoris Causa dari ITS
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat menerima gelar Doktor Honoris Causa dari ITS dalam bidang inovasi pembangunan kota di Graha ITS bersama Ketua Senat ITS Prof. Priyo Suprobo (kanan) dan Rektor ITS Surabaya, Prof. Dr. Ir. Triyogi Yuwono, Rabu (4/3/2015).

Dedikasi luar biasa yang diberikan Wali Kota Surabayam Tri Rismaharini dalam membangun Kota Surabaya terus mendapatkan apresiasi dari semua pihak. Setelah dikukuhkan menjadi Wali Kota Terbaik Ketiga di dunia oleh the World Mayor Prize (WMP) 2014, Rabu (4/3/2015) pagi, Risma dinobatkan sebagai Honoris Causa oleh Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya di Graha ITS.

Wali Kota sarat prestasi ini memperoleh gelar Honoris Causa setelah menemukan sebuah teori baru yang ia tulis dalam Desertasinya tentang inovasi pembangunan Kota Surabaya selama lima tahun terakhir. Dalam teori yang dicetuskan oleh Risma tersebut, perempuan kelahiran 54 tahun silam ini menulis tentang Inovasi Pembangunan atas Partisipasi Masyarakat Surabaya.

“Ternyata setelah saya renungkan dan berdasar dari pengalaman, beban biaya sebuah program itu bisa ditekan dengan cara melibatkan semua elemen masyarakat. Jadi nanti beban biaya yang ditanggung pemerintah itu bisa turun dengan melibatkan peran aktif masyarakat,” terangnya saat ditemui wartawan sesaaat seusai mendapatkan gelar Doktor Kehormatan.

Risma sendiri telah merasakan dampak dari program-programnya selama ini yang hampir semuanya melibatkan masyarakat Surabaya. Di antaranya adalah Pahlawan Ekonomi, Merdeka dari Sampah, Start Surabaya, dan lain sebagainya yang tentunya mendorong Surabaya untuk lebih berkembang.

“Kalau bisa dihitung secara detail atau diteliti lagi (teorinya), saya rasa itu teori baru. Karena selama ini orang bilang (program pemerintah) tidak bisa dikerjakan karena uang belum turun. Tapi itu tidak terjadi di Surabaya, semua program bisa jalan meski hanya dengan anggaran yang cekak bahkan tidak ada anggarannya,” bebernya.

Ini yang mengakibatkan terjadinya percepatan dan pertumbuhan masyarakat Kota Surabaya. Dibeberkan oleh Risma, meski warga Surabaya jumlahnya separuh dari penduduk DKI Jakarta, luas wilayah juga separuh dari luas wilayah DKI Jakarta tapi justru APBD Surabaya seper-sepuluh dari total APBD DKI Jakarta. “Tapi coba kita lihat percepatan pertumbuhan Surabaya justru jauh lebih baik,” tandasnya.

Sementara itu, Rektor ITS Surabaya, Prof. Dr. Ir. Triyogi Yuwono menjelaskan bahwa proses pengajuan Tri Rismaharini untuk mendapatkan gelar doktor kehormatan sudah dilakukan sejak 29 Januari 2014 silam. Waktu itu Jurusan Arsitektur mengajukan dan tim senat ITS pun melakukan penelitian terkait karya-karya yang berhasil dicetuskan Risma.

“Pada akhir Desember lalu kita sepakati bahwa bu Risma layak mendapatkan gelar kehormatan dari ITS. Dan gelar Honoris Causa ini baru dua kalinya setelah pada 5 tahun silam kami memberikan kepada Hermawan Kertajaya. Jadi sebenarnya kami sangat pelit memberikan penghargaan,” katanya. (wh)