Cemaskan Angka Gizi Buruk Jatim Di Atas 30 Persen

Cemaskan Angka Gizi Buruk Jatim Di Atas 30 Persen

Kohar Hari Santoso dan Kresnayana Yahya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Stunting atau gizi buruk hari ini bukan jadi permasalahan yang menonjol dan banyak dibahas. Namun, permasalahan ini berdampak besar dalam kemajuan perekonomian Jawa Timur.

Menurut Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, sampai saat ini ada beberapa wilayah di Jatim yang angka stuntingnya di atas 30 persen. Di antaranya Sampang, Pamekasan, Bangkalan, Sumenep, Probolinggo, Bondowoso, Nganjuk, Lamongan, Kediri dan lain sebagainya.

“Jika dibandingkan, wilayah-wilayah yang terkena stunting ini lebih lemah perkembangannya ketimbang daerah yang tidak terkena stunting. Artinya, daerah yang tingkat stuntingnya rendah dapat lebih menyejahterakan masyarakatnya ketimbang daerah yang stuntingnya tinggi,” tandas Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (15/3/2019).

Kresnayana menjelaskan, hari ini perekonomian mulai membaik dan angka kemiskinan mulai turun. Namun angka stunting belum juga berkurang. Hal ini menandakan jika masyarakat yang terkena stunting bukan lagi mereka yang tidak mampu, namun mereka yang mengabaikan dan belum paham pentingnya gizi bagi perkembangan generasi ke depan dan perekonomian secara luas.

Di Jatim, sebut dia ,masyarakat kurus itu angkanya 3,5 persen. Kebanyakan masyarakat yang terkena stunting ini adalah keluarga perokok dan terimbas masalah pola konsumsi makanan.

“Intinya, tingginya angka stunting ini disebabkan kesadaran dan ketidaktahuan dari masyarakat. Ini yang musti dibenahi,” tegas Kresnayana.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur Kohar Hari Santoso mengungkapkan, ada 12 kabupaten di wilayah Jatim yang angka stuntingnya cukup tinggi. 

“Dampak stunting ini bukan hanya terhambatnya pertumbuhan saja. Bahaya stunting ini juga memicu masyarakat terkena berbagai penyakit kronis di kemudian hari,” paparnya.

Kohar menambahkan, seribu hari kehidupan pertama seseorang menjadi kunci utama untuk menghindari stunting. Untuk menanggulangi permasalahan tersebut, Kohar mengimbau masyarakat sadar dan memahami beberapa langkah pencegahan stunting.

“Stunting ini bisa dicegah. Di antaranya memastikan usia pernikahan di atas 20 tahun, pemberian air susu ibu (ASI) sejak dini, pemberian makanan tambahan pada anak balita, memberikan Imunisasi pada anak, dan mengatur pola konsumsi makanan berimbang,” tegasnya. (wh)

Marketing Analysis 2018

Berikan komentar disini