Cegah Warga Pendatang, Pemkot Surabaya Bentuk Tim Gabungan

Cegah Warga Pendatang, Pemkot Surabaya Bentuk Tim Gabungan
foto: liputan6.com

Pemerintah Kota (Pemkot) Kota Surabaya membentuk tim gabungan mencegah adanya warga pendatang musiman pasca Lebaran. Tim tersebut melibatkan berbagai Satuan Kerja Perangkat Dinas (SKPD) terkait.

“Tim tersebut melibatkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Satuan Pelindung Masyarakat (Linmas), Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil), Dinas Sosial, Kecamatan dan Kelurahan,” ujar Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini  dalam acara Halal bihalal jajaran Pemkot dan Anggota DPRD Kota Surabaya di Balai Kota, Rabu (22/7/2015).

Risma menuturkan, nantinya tim gabungan tersebut akan disebar di seluruh titik yang berpotensi menjadi lokasi berkumpul warga pendatang. “Contohnya di terminal, tempat kunjungan wisata, makam, dan stasiun,” tegasnya.

Kata Risma, pihaknya juga menyiapkan petugas berpakaian preman untuk memantau tempat-tempat tersebut. “Kami ingin tahu mereka datang dengan kemauan pribadi atau mereka sengaja diterlantarkan anggota keluarganya. Kami akan terus berusaha mengungkap hal tersebut,” papar dia.

Risma mengungkapkan, saat ini telah mengamankan sedikitnya 250 gelandangan dan anak jalanan. psikotik. “Dari 250 orang yang diamankan 70 persen penderita psikotik,” katanya.

Setelah diamankan, imbuh Risma, Pemkot Surabaya belum dapat memulangkan karena mereka belum bisa ditanya namanya siapa, dimana rumahnya dan lain sebagainya.

“Sebagai manusia, kami memiliki beban moril untuk merawat para penderita tersebut,” terangnya.

Risma menuturkan, saat ini Surabaya masih harus merawat ratusan penderita psikotik di Penampungan Lingkungan Pondok Sosial (Liposos). Menurut data yang dihimpun oleh enciety.co, hingga Maret 2015, ada 1.398 orang dirawat di Liponsos.

“Yang kami takutkan jika jumlah ini terus bertambah tiap tahunnya akan mempengaruhi proses kesembuan dari pasien-pasien yang telah lama kami tangani,” tuturnya.

Risma mengimbau agar para warga pendatang dapat berpikir dua kali jika ingin mencari peruntungan di Surabaya . “Kami berharap agar mereka yang ingin menjadi warga pendatang di Surabaya dapat memiliki kemampuan yang cukup untuk bekerja di Surabaya. Namun, dengan kemampuan yang mereka miliki, seharusnya lebih baik jika mereka dapat membangun daerahnya masing-masing ketimbang harus merantau ke Surabaya,” tutur Risma. (wh)