Cegah Investasi Bodong, OJK Tawarkan Obligasi Daerah

Cegah Investasi Bodong, OJK Tawarkan Obligasi Daerah
Kepala Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sardjito di sela diskusi dengan wartawan terkait Obligasi Daerah dan Investasi Bodong di Surabaya, Selasa (3/3/2015).

Banyaknya produk investasi bermasalah atau biasa disebut investasi bodong di tengah-tengah masyarakat membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) gerah. Untuk memberangus menjamurnya investasi keuangan abal-abal itu, OJK berinisiatif untuk menggerakkan masyarakat pedesaan untuk beralih ke Obligasi Daerah.

Kepala Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sardjito menjelaskan bahwa nantinya pinjaman daerah akan ditawarkan kepada publik melalui penawaran umum di pasar modal. Jadi semua masyarakat daerah baik itu petani sampai maupun nelayan yang memiliki modal agar berinvestasi.

“Intinya kita memudahkan regulasi dan membantu masyarakat untuk mendorong masyarakat memporoleh dana segar. Ini juga sebagai upaya kami agar masyarakat dapat mengenal apa itu pasar modal, reksadana, dan lain sebagainya,” jelasnya kepada wartawan di Rumah Makan Agis Jalan Wisma Pagesangan 197 Surabaya, Selasa (3/3/2015).

Langkah ini kata Sardjito untuk mengantisipasi agar masyarakat tidak terjerumus ke dalam investasi bodong. Karena itu, Sardjito merasa ini sebagai bagian dari tanggung jawabnya untuk membantu masyarakat dalam memberikan informasi produk-produk investasi yang sah.

“Dengan obligasi daerah kita ingin investasi bodong itu hilang di masyarakat daerah. Kita juga ingin jumlah investasi di daerah semakin meningkat, makanya kita tidak remi kita tidak secara eksklusif. Kita ingin investor adalah rakyat Indonesia sendiri, bukannya orang asing lalu uangnya di bawah ke luar negeri lagi,” sambungnya.

Saat ini kata Sardjito, sejumlah daerah seperti Pemerintah Jawa Barat dan Kalimantan Timur secara intens sedang melakukan seminar untuk mempercepat pembangunan obligasi daerah. “Saya kira Jawa Timur juga tidak kalah dan harusnya sudah siap untuk masuk obligasi daerah,” imbuhnya.

Karena itu dalam kesempatan tersebut, pihaknya mengaku sedang memberi edukasi kepada perangkat kerja di daerah-daerah yang sudah getol. “Setidaknya kami ingin mendorong masyarakat untuk berani bertanya dan berinvestasi. Kita jangan terjebak pada produk atas nama syariah kita harus lihat. Sederhana saja, dalam usaha tidak ada untung besar dalam waktu yang singkat. Makanya jangan percaya kalau iming-imingnya besar,” tambahnya.

Sardjito mencontohkan PT Golden Traders Indonesia (GTI) Syariah yang sudah terbukti sebagai perusahaan bodong telah banyak menipu orang bahkan seorang Marzuki Ali dan MUI. Selain itu Koperasi Langit Biru juga demikian, bahkan diakuinya banyak koperasi lainnya yang menawarkan bisnis bodong tersebut.

“Seperti MMM itu adalah investasi bodong. Sayangnya, masyarakat kita gampang terpengaruh dan ingin cepat kaya. Padahal kalau kita hitung-hitung, nggak mungkin modal Rp 100 juta berbunga jadi Rp 130 juta dalam seminggu. Itu ngawur. Jangan percaya,” tambahnya. (wh)