Cegah Inces, KBS Butuh Program Breeding

Cegah Inces, KBS Butuh Program Breeding
Sejumlah satwa seperti harimau Sumatera dan gajah yang sangat membutuhkan program breeding.

Selain membutuhkan kandang, satwa-satwa koleksi Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PDTS KBS) juga membutuhkan program breeding atau memperbaiki kualitas hidup satwa. Ini karena sejumlah satwa seperti harimau Sumatera dan gajah koleksi KBS hanya berasal dari satu keturunan dan dikhawatirkan akan inces.

Plt. Direktur Utama PDTS KBS Aschta Nita Boestani Tajudin menjelaskan, semua harimau Sumatera koleksi KBS berasal dari satu keturunan. Selain itu, gajah pun demikian yang nanti dikhawatirkan akan inces dan semakin memperburuk kualitas kembang biak satwa.

“Beberapa waktu yang lalu saya berdiskusi dengan salah satu profesor di Institur Teknologi Bandung (ITB) bahwa habitat satwa juga diperhatikan, termasuk menjaga satwa agar tidak sampai inces. Karena bahayanya, selain mengakibatkan kelahiran yang cacat, inces juga menjadikan kualitas kembang-biak satwa semakin buruk,” bebernya saat ditemui enciety.co di kantornya, Kamis (19/3/2015).

Karena itu, kata Aschta, diperlukannya breeding program. Di mana satwa diperlakukan sesuai karateristik endemiknya untuk memperbaiki kualitas hidup satwa. Mulai dari pemeliharaan, biologi reproduksi, genetika, biostatistika, dan perkembangan terkini. Termasuk di antaranya persilangan dan seleksi populasi.

“Dengan diterimanya Lembaga Konservasi (LK) oleh KBS, paling tidak kita harus memprogram selama 50 tahun ke depan untuk memetakan silsilah satwa. Makanya setiap satwa kami beri nama dan kami tandai agar tidak terjadi inces,” terangnya.

Selain itu, terang dia, untuk saat ini juga memerlukan pertukaran populasi satwa, atau menitipkan satwa ke LK lain. Tujuannya agar satwa terhindar dari inces.

“Namun itu belum bisa kami lakukan karena permasalahan aset yang belum selesai sampai saat ini,” ujarnya.

Tidak hanya masalah inces, masalah perbaikan populasi satwa juga harus diperhatikan. Seperti halnya dengan koleksi rusa milik KBS yang saat ini didominasi rusa jantan. Bahkan di dalam satu kelompok, lazimnya hanya butuh 4 pejantan dan 1 pemimpin tapi saat ini ada puluhan Rusa jantan yang berada di masing-masing kelompok.

Akibatnya, pertikaian antara pejantan dalam satu kelompok pun sering tak terhindarkan. Ini yang menyebabkan Rusa di KBS sering mati. “Dari rasio 5 angka kelahiran dipastikan ada 1 Rusa yang mati. Penyebab kebanyakan karena perkelahian sesama pejantan,” sambungnya.

Karena itu solusi sementara yang bisa dilakukan Aschta adalah dengan memisahkan tempat makan yang semula menjadi satu kini terpisah tiga sampai empat bagian. Ini dinilai cukup efektif untuk menekan perkelahian antar satwa.

“Saya berharap masalah aset bisa dituntaskan secepatnya. Karena kami membutuhkan kejelasan agar bisa cepat bergerak mengatasi berbagai masalah ini,” akhirinya. (wh)