Buya: Kebhinekaan Harus Dikelola, Bukan Dirusak

Buya: Kebhinekaan Harus Dikelola, Bukan Dirusak
Mantan Ketua PP Muhammadiyah Prof Ahmad Syafii Maarif menghadiri Pengajian Bulanan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Jumat (19/2/2016). Foto: arya wiraraja/enciety.co

Bangsa Indonesia harus melihat kebhinekaan sebagai realitas yang harus diterima. Kebhinekaan harus dipahami lewat pemahaman, bukan menyatukan ide dan pandangan. Karena itu, jangan ada lagi ada pihak-pihak yang mengklaim paling benar.

Demikian benang merah Pengajian Bulanan bertajuk “Merawat Kebhinekaan, Mewujudkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin” yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Jumat (19/2/2016). Hadir sebagai pembicara Mantan Ketua PP Muhammadiyah Prof Ahmad Syafii Maarif dan Wakil Ketua PWM Jatim Prof Achmad Jainuri.

Syafii Maarif menegaskan, Islam menawarkan pilar peradaban, dimana kita  menjadi bersaudara dalam perbedaan. “Namanya rahmatal lil ‘alamin tak mengancam perbedaan,” tegasnya.

Menurut pria yang karib disapa Buya itu, kebhinekaan harus dikelola agar tidak meruntuhkan rumah besar bernama Indonesia. “Bukan malah dirusak, karena hal itu menghambat perjalanan peradaban,” tutur dia.

Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UGM Yogyakarta itu menegaskan perbedaan, kebhinekaan, atau pluralitas itu penting dan diajarkan Islam. Akan tetapi, perbedaan itu bukan untuk memicu konflik, melainkan untuk memahami.

“Memahami itu bukan meyakini, karena banyak orang yang salah paham terhadap pluralitas, karena pluralitas dinilai akan menyamakan agama atau ajaran agama. Padahal pluralitas itu sebatas menerima dan memahami. Tidak lebih. Itulah rahmatan lil ‘alamin,” tutur dia.

Buya juga memberikan otokritik terhadap Muhammadiyah. Dia bilang, warga Muhammadiyah perlu membuka diri dalam memahami perbedaan. “Warga Muhammadiyah harus memperluas radius pergaulan,” cetus Buya.

Umat Islam, kata Buya, harus bersikap toleran. Karena Alquran mengajarkan toleransi dan mudah menerima perbedaan dibandingkan dengan umat Islam itu sendiri.

Dia lalu mengutip Surat Yunus, yang  menyebut jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi, seluruhnya, maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang beriman semuanya.

“Artinya, Tuhan itu tidak tersinggung dan bahkan menghendaki pluralitas atau kebhinnekaan (perbedaan). Karena itu tidak boleh ada upaya memaksakan agama, sebab ketidaksiapan menerima perbedaan akan justru menjadi “alat” pihak lain untuk mempermainkan,” jabat dia.

Menurut Buya, kalau ada umat Islam yang suka kekerasan berarti dia tidak membaca Alquran. “Warga Muhammadiyah juga belum siap berbeda. Padahal pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan memiliki dokumen Muhammadiyah tanpa azas, tapi warga Muhammadiyah sekarang berdebat soal azas, apakah azas Pancasila atau azas Islam,” tuturnya.

Sementara itu, Achmad Jainuri mengatakan, banyak yang salah mengartikan pluralisme karena dipengaruhi lingkungan. “Pluralisme itu memahami keaneragaman, bukan membenarkan semua agama,” tandasnya.

Saat ini, sambung dia, langkah yang tepat untuk merawat kebhinekaan bangsa adalah dengan melakukan dialog. “Dalam dialog, perbedaan tersebut harus dihormati dan menjadi pembanding tanpa harus saling merasa benar dan saling mempengaruhi,” urai dia.

Dia lalu mengutip kisah KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang mengundang Semaun dan Darsono dalam pertemuan tahunan Muhammadiyah di Yogyakarta. Dialog tersebut juga dihadiri oleh pastor yang didukung oleh pedagang China terutama setelah peristiwa di Kudus tahun 1919.

Hal tersebut lantas banyak diprotes oleh para kader Muhammadiyah. Namun KH Ahmad Dahlan menjelaskan secara rinci, dengan harapan mereka dapat terbuka secara pemikiran dan pemahaman.

“Karena pada dasarnya Islam memiliki ajaran universal yang mencakup seluruh aspek kehidupan bagi seluruh umat manusia dan menembus batas geografis,” kata mantan rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo itu.

Jainuri juga memberikan catatan kritis terhadap Muhammadiyah yang lebih fokus pada kegiatan amal usaha, namun kurang berkomunikasi dengan pihak luar.

“Warga Muhammadiyah lebih banyak inward looking (melihat ke dalam) daripada outward looking (melihat ke luar),” ujarnya. (wh)