Bupati Banyuwangi Yakin Jatim Bisa Menguasai Asia

Bupati Banyuwangi Yakin Jatim Bisa Menguasai Asia
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas blak-blakan soal kemajuan yang dicapainya selama memimpin Banyuwangi. Anas membeberkan programnya sebagai kepala daerah Banyuwangi yang memprioritaskan potensi pertanian dan pariwisata.

“Kalau kita belajar literatur sejarah Majapahit yang menguasai Asia waktu itu,  kenapa memilih mendirikan kerajaannya di Jawa Timur? Kenapa Majapahit bisa menguasai Asia? ini bukan kebetulan semata,” kata Azwar Anas saat menjadi pembicara Prespective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (31/10/2014),  bersama Chairperson Enciety Business Consult (EBC) Kresnayana Yahya.

Anas mengatakan, jika semua daerah bisa bangkit, ekonomi di Jatim akan sejaya zaman Majapahit. Dari sini Anas melihat ada celah untuk optimisme daerah Banyuwangi bisa dikelola sesuai dengan potensinya.

“Kami sudah tegaskan bahwa membangun Banyuwangi ini tidak dengan mem-fotokopi Surabaya dengan membangun mal. Tidak mungkin saya memfotokopi Kota Batu dengan membuat wisata buatan. Karena itu akan keliru semua, karena justru tidak menyeragamkan dan memajukan daerah Banyuwangi,” ungkapnya.

Atas dasar itu, beber Anas, sebagai daerah ujung Jatim, Banyuwangi sebenarnya mempunyai potensi besar. Ini karena 45 persen kawasannya adalah hutan dan perkebunan.

“Namun waktu kami untuk memimpin ini terbatas. Karena dalam waktu terbatas ini tidak semua hal bisa kami lakukan. Jadi kami lalu mengambil langkah prioritas yang bisa kami lakukan. Trigger besar ini akan kami lakukan,” jelasnya.

Dia lalu menjelaskan langkah-langkah strategis membangun Banyuwangi, Pertama dengan melakukan revitalisasi pertanian. Ini karena pertanian menjadi potensi terbesar Banyuwangi. Tapi pertanian saja tidak cukup kalau tidak disentuh pasar yang baik. Hasil pertanian ini tidak akan punyai nilai tambah kalau tidak dikoneksikan dengan pasar besar.

“Maka buah naga di Banyuwangi telah didorong untuk masuk ke Carrefour. Nilai penjualan buah naga jadi meningkat. Anggaran pertanian kami juga kami naikkan 1.100 persen untuk membangun infrastruktur pertanian di Banyuwangi,” bebernya.

Selanjutnya untuk menyentuh sektor wisata, Anas melakukan terobosan dengan membuat berbagai event eco wisata. Program tersebut didorong untuk mengembangkan pariwisata di Banyuwangi. Namun untuk mewujudkan itu ada setidaknya tiga konsolidasi.

“Pertama, konsolidasi infrastruktur. karena tidak mungkin menjual pariwisata tapi kalau infrastrukturnya jelek baik jalan atau dan lain sebagainya pasti tidak akan berjalan,” konsepnya.

Kedua, konsolidasi budaya. Tidak mungkin menjual pariwisata kalau rakyatnya manyun terus, tidak murah senyum. Tukang becaknya malas dan judes. Untuk itu, pihaknya melakukan pendampingan dan pendidikan ke tukang becak bagamana menerima tamu. Kemudian mendidik masyarakat agar welcome dengan membentuk jalinan perilaku yang baik antara tuan rumah dan tamu.

Ketiga, konsolidasi birokrasi. Yakni harus berubah menjadi pemerintahan yang berorientasi sebagai pelayan masyarakat. “Kemudian penyiapan SDM juga harus dilakukan. Karena tidak mungkin kalau SDM tidak disiapkan Banyuwangi akan lebih baik. Selain SMK-SMK baru kami buat di kecamatan, sebagian pesantren-pesantren di Banyuwangi juga kami gabungkan dengan sekolah,” akunya.

Lebih rinci, Anas mengaku saat ini tengah menargetkan pembangunan seribu kamar hotel di Banyuwangi. Ini dilakukannya untuk menonjolkan ikon Banyuwangi sebagai kota wisata. “Saat ini baru ada 300 kamar hotel saja yang siap menampung wisatawan,” ungkapnya.

“Banyuwangi juga telah memiliki 10 persen dari 100 persen tambang emas di Banyuwangi. Belum ada daerah yang minta saham resmi ke perusahaan penambang sebesar itu. Dan ternyata kita mendapatkannya. Pendapatannya per tahun mencapai Rp 7,7 triliun,” imbuh mantan anggota DPR RI tersebut.

Di satu sisi, sektor laut Banyuwangi juga menjadi penyumbang terbesar untuk pertumbuhan Banyuwangi. Di antaranya angkutan barang dan neraca ekspor Banyuwangi sampai saat ini banyak yang belum tercatat oleh Pemerintah Pusat.

“Padahal ekspor hasil laut kita, banyak ke Thailand, Filipina dan negara lainnya, termasuk dalam negeri ke Nusa Tenggara. Belum lagi ikan hias di sini semua tidak tercatat. Rencananya maskapai kargo tahun depan akan masuk untuk membantu distribusi potensi laut kita,” ujarnya.

Selain itu, di Banyuwangi juga sedang konsentrasi membiakkan ayam organik yang biasa dikonsumsi hotel berbintang di Surabaya. Ayam yang dibawa dari Belanda itu menurut Anas prospek untuk dikembangkan di Banyuwangi dan bahkan karena saking banyaknya, pihaknya saat ini sampai kekurangan lahan untuk pengembang-biakan ayam organik.

“Dari semua potensi ini, Ke depan kita akan mengintegrasikan infrastruktur. Di antaranya dengan menggelar Festival Gilimanuk untuk menyambut turis dari Bali. Lalu pada 2020 mendatang, Banyuwangi akan mendapatkan bonus demografi. Untuk itu, kami saat ini menyiapkan infrastruktur IT, seperti digitalisasi kita siapkan kerjasama dengan Telkom Indonesia,” pungkas dia. (wh)