BUMN Gula Konsolidasi Kejar Peningkatan Produksi

BUMN Gula Konsolidasi Kejar Peningkatan Produksi

Sejumlah perusahaan BUMN yang bergerak di sektor industri gula berencana melakukan konsolidasi di Surabaya guna membahas program giling 2014. Acara ini untuk menentukan langkah penting menjelang program giling, sekaligus evaluasi kinerja tahun 2013.

Seperti disampaikan Direktur Utama PTPN X Subiyono melalui keterangan persnya, Rabu (12/2/2014), menyebut terjadi anomali iklim tahun lalu yang membuat kinerja gula merosot. Ini yang menyebabkan produktivitas gula stagnan di angka 2,5 juta ton.

”Kita mencermati siklus anomali semakin memendek, atau menjadi tiga tahunan. Sebelum 2013, anomali iklim terjadi pada 2010. Dimana siklus ini memendek karena musim hujan yang berkepanjangan terjadi pada 1998, dan terulang 2010 atau 12 tahun kemudian. Ini tantangan, harus ditaklukkan. Bukan dijadikan alasan,” papar Subiyono.

Pembahasan Evaluasi Giling dan Rencana Giling 2014 membahas dampak dan antisipasi lanjutan anomali iklim. ”Kami berharap tahun ini dan tahun berikutnya, sektor gula bisa terus membukukan kinerja yang manis dengan produksi yang kian meningkat,” ujarnya.

Selain itu, sambung dia, masalah konsolidasi dari sisi budidaya (on-farm) dan pengolahan di pabrik gula (off-farm). Dari sisi budidaya, sejumlah hal yang perlu dioptimalkan adalah penggunaan varietas unggul dan teknologi pertanian tepat guna.

Sedangkan sisi pengolahan pabrik gula (off-farm), selama ini masih ada tantangan berupa permesinan yang sudah tua. Secara bertahap, perlu dilakukan modernisasi agar PG semakin efisien dan mampu menciptakan kinerja optimal.

Subiyono menegaskan, PG harus makin efisien agar bisa menekan biaya pokok produksi. Hal ini diharapkan sektor hulu hingga hilir sama-sama mendapatkan untung. Secara sederhana, efisiensi proses produksi mudah diukur dari kemampuan pabrik dalam menghasilkan ampas yang merupakan limbah tebu.

“PG yang bisa menghasilkan ampas secara optimal berarti proses gilingnya lancar. PG yang bisa menghasilkan ampas tebu juga menunjukkan bahan baku (tebu) berada pada fase pemanenan yang tepat atau sudah masak,” tuturnya.

Produksi ampas tebu itulah yang akan digunakan sebagai bahan bakar boiler yang alami dan murah. Sehingga, PG tak harus membeli bahan bakar untuk menggerakkan mesin.

Subiyono berharap masa giling pada tahun ini dan tahun berikutnya semakin pendek dengan kapasitas optimal. Idealnya musim giling berjalan 160 hari. “Jika musim giling bisa 160 hari dengan kapasitas optimal, kita bisa menghilangkan biaya tinggi saat panen karena bisa menghindari hujan,” tuturnya.(wh)