Bumbu Pecel Dewi, Buah Manis Bisnis Keluarga

Bumbu Pecel Dewi, Buah Manis Bisnis Keluarga

Dewi Rokhmah memamerkan bumbu pecel produksinya.

Bergelar sarjana dan menjadi ibu rumah tangga kini tak lagi tabu. Menjalankan bisnis dari rumah sambil merawat anak. Apalagi bila bisnis yang dijalankan adalah bisnis keluarga yang melibatkan beberapa sanak saudara. Itulah yang dilakoni Dewi Rokhmah, pemilik UKM Sambel Pecel Blitar merek Dewi.

Semula, Dewi tak menyangka jika ditakdirkan benar-benar terjun ke bisnis keluarga ini. “Sejak sekolah sampai dewasa, saya cuma bantu-bantu ibu meracik bumbu pecel ini,” katanya memulai kisah.

Almarhumah ibunya, Hj. Istini, adalah seorang pegawai Tata Usaha di lingkungan RSUD dr Soetomo. Dewi menyebutnya sebagai ibu pekerja yang ulet.

Setiap pagi, alm Istini membawa beberapa rantang yang telah berisi berbagai macam lauk pauk. “Ibu saya melayani katering makanan di kantor. Setiap Subuh sudah sibuk memasak.” ujar Dewi.

Masakan ibunya terkenal enak di kalangan dokter dan perawat rumah sakit rujukan terbesar di Indonesia Timur itu.

Sepulang kantor, alm Istini masih umek dengan meracik bumbu pecel. Dewi sebagai putri satu-satunya membantunya hingga malam. “Bikin bumbu pecel sampai benar-benar jadi itu butuh waktu lebih dari semalam. Karena setelah goreng kacang, perlu ditiriskan semalam,” jelasnya.

Sepeninggal almarhumah sang ibunda tahun 2012, Dewi merasa terpanggil untuk melanjutkan bisnis tersebut. “Dulu, saya lulus kuliah langsung kerja di perusahaan konstruksi. Tapi lama kelamaan anak saya nggak ada yang ngramut (merawat, Red). Saya lanjutkan lagi usaha ibu,” katanya.

Dewi lantas melanjutkan tampuk bisnis keluarga bumbu sambel pecel dan katering sang ibunda. Namun khusus katering, Dewi tak otomatis menyanggupi pesanan. Sebab ia sendiri merasa kesusahan, “Kalau pecel kan, diambili orang atau reseller, sama langsung dijual di pasar-pasar,” jelasnya.

Berbekal pengalaman membantu dan jejaring klien sang ibunda, Dewi menjaga pelanggan lama sambil perlahan mengembangkan usaha. Mengaku tak pernah menaruh iklan di dunia maya alias online, ia mengandalkan marketing dari mulut ke mulut.

“Ya, saudara dan teman-teman yang di luar provinsi sampai luar pulau. Paling jauh Cilegon dan Balikpapan,” bebernya.

Dewi pun menerapkan sistem ongkos kirim ditanggung pembeli. “Kalau kirim sendiri belum mampu, karena ongkos kirimnya lebih mahal,” imbuhnya.

Dewi mengatakan, kunci sedapnya bumbu pecel buatannya berkat resep rahasia dari sang nenek. Sang Nenek yang asli Blitar menurunkan resep rahasia tersebut ke-10 bersaudara putra-putrinya, termasuk sang ibunda. Namun, yang bertahan menjalankan bisnis berbasis bumbu ini hanya 4 orang.