Bulog Jatim: Produksi Padi Tersendat Akibat Kemarau

 

Bulog Jatim: Produksi Padi Tersendat Akibat Kemarau

Perum Bulog Divisi Regional Jatim menyatakan terganggu dengan produktivitas padi di penghujung tahun ini. Kemarau panjang pada bulan September menyebabkan penurunan produksi padi.

Hingga akhir September lalu, ketersediaan beras di Perum Bulog Divre Jatim sudah tercapai sekitar 70 persen atau setara dengan 725.000 ton. Sementara produksi beras tahun ini di Jatim ditargetkan mencapai 1,1 juta ton.

“Pada bulan September sampai Desember akan terjadi penurunan karena musim kemarau. Pola seperti ini menyebabkan petani menghindari musim tanam padi disaat kemarau,” jelas Kadivre Perum Bulog Jatim Rusdianto, Senin (6/10/2014).

Dia menambahkan, banyak petani kesulitan menanam pada saat ketersediaan air kian menipis. Selain akibat kemarau, seretnya pengadaan beras juga dipengaruhi tingginya harga beras medium di pasar. Harga Pokok Pembelian (HPP) gabah oleh Bulog sesuai inpres mencapai Rp 4.300 per kilogram.

Sementara harga di pasaran sudah dikisaran Rp 4.500 per kg hingga Rp4.800 per kg. Untuk HPP beras sesuai inpres mencapai Rp 6.600 per kg, sementara harga beras di pasaran sudah mencapai Rp 6.700 per kg hingga Rp 6.900 per kg.

Kondisi ini juga dipengaruhi ketertarikan penggilingan untuk mengolah beras menjadi beras premium, yang memiliki harga lebih menarik dibanding beras medium. Selain itu, posisi permintaan berasa premium makin meningkat.

“Itu yang menjadi kendala kita, meskipun selisih harga masih dalam taraf normal. Tetapi petani lebih memilih menjual dengan harga yang lebih tinggi. Sementara pengadaan tidak hanya bergantung pada produksi saja, juga pada situasi harga,” lanjut Rusdianto.

Tersendatnya produksi beras akibat kemarau, Bulog Divre Jatim masih mampu mengontrol. Dalam setiap harinya, pengadaan beras di seluruh wilayah Jatim bisa mencapai 1.500 ton beras. “Harusnya bisa lebih dari angka tersebut,” tegasnya. (wh)