Bukan Waktunya Ajari Anak Hapalkan Hal yang Remeh

Bukan Waktunya Ajari Anak Hapalkan Hal yang Remeh

Kresnayana Yahya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Persaingan global sarat dengan perubahan drastis. Agar sustain, kita dituntut terampil dan mampu berinovasi. Hal itu ditegaskan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspektif Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (25/10/2019).

Menurut dia, saat ini kurang lebih 50 juta anak sedang belajar. Sementara 100 juta orang tua sekarang harus dapat berpikir zaman telah berubah. Berbagai hal yang telah dialaminya dulu tidak bisa dipraktikan lagi saat ini. Untuk itu, pemerintah saat ini sedang melakukan percepatan pembangunan sumber daya manusia dalam berbagai aspek.

“Langkah pemerintah, di antaranya meningkatkan literasi digital. Jika anak itu tidak dibebani menghapal berbagai hal remeh, yang hanya dengan search di internet bisa tahu, saya yakin anak-anak ini bisa lebih berkembang. Lantas, untuk orang-orang tua, sudah tidak bisa lagi membandingkan zaman sekarang dengan zaman dulu. Kita harus beri ruang pada anak-anak kita ini untuk berpikir masa depan,” tutur Kresnayana.

Kata dia, sekarang tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama dalam mengembangkan bisnis. Jika dahulu ada seorang bos bilang, bahwa ia bisa maju dan mengembangkan usahanya sendiri, pola seperti itu tidak bisa lagi dilakukan.

“Zaman sekarang, kita tidak bisa lagi melakukan pola one man show. Dengan tantangan yang makin besar, mau tidak mau harus kerja tim. Berkolaborasi. Itulah kata kuncinya,” tegas pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.

Jadi, imbuh dia, harus belajar dan memberanikan diri untuk mencoba. Contohnya, karyawan perusahaan kuliner, hendaknya dia berani melihat tantangan ke depan dan berani berinovasi. Karyawan ini harus mengubah pola pikir, jika perusahaan bisa besar karena keberadaan karyawannya.

“Supaya bisnis ini dapat sustain, tidak bisa lagi kita menuruti perilaku bos-bosnya terdahulu,” paparnya.

Hari ini, menurut Kresnayana, semua industri harus dapat berpikir menaikkan skala dan scope. Yang bisa dilakukan adalah menambah bahan baku dan memperluas pelanggan.

Kresnayana mencontohkan perkembangan perusahaan berbasis aplikasi Go-jek. Saat ini, sekitar 170 juta orang sudah men-download aplikasi tersebut. Sekarang, Go-Jek dan Grab telah membayar Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Rp 4 triliun.

Bisa dibayangkan, jika itu hanya 10 persennya berarti pendapatannya sudah Rp 40 triliun. Jika yang dibayarkan itu 5 persen, berarti sudah Rp 80 triliun perputaran uang di Go-Jek dan Grab. Hal ini bisa meningkatkan kualitas usahanya.

“Hari ini kurang lebhh 4 juta orang dapat pekerjaan dari aplikasi tersebut. Bayangkan, jika itu ditingkatkan, bisa 8 juta orang yang dapat pekerjaan,” cetus Kresnayana. (wh)