Bukan Cuma Intelektual, tapi Juga Kecerdasan Emosional

Bukan Cuma Intelektual, tapi Juga Kecerdasan Emosional

Kresnayana Yahya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Pendidikan sekarang tidak hanya mengembangkan intelektual, tapi juga harus menyentuh pendidikan yang mengutamakan kecerdasan emosional.

“Cara bersikap menjadi penting. Cara berkomitmen dan menekan egosentris dengan kehidupan sosial atau dengan orang banyak harus diajarkan dalam pendidikan anak-anak kita ke depan,” ujar Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (17/1/2020).

Menurut dia, emotional management, social awareness dan self awareness adalah beberapa hal yang akan membentuk seorang anak. Dengan hadirnya gadget, perkembangan teknologi, dan keterbukaan informasi, membuat banyak anak menjadi maju secara intelektual.

“Namun, di sisi lain, kemajuan intelektual ini juga harus dibarengi dengan kemajuan emosional. Supaya anak tumbuh berkembang dan menjadi orang yang bijak harus diimbangi aspek emosionalnya.,” terang dia.

Kata Kresnayana, anak tumbuh dan berkembang dalam ekosistem yang paling dekat, yakni keluarga. “Kenapa pada tiga tahun seorang anak dianjurkan masuk pendidikan PAUD. Ini agar anak memahami berbagai aspek. Pemahaman apresiasi dan value,” tegas pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.

Kresnayana mencontohkan, seorang anak laki-laki yang melihat ibunya  memasak. Sang anak bakal melihat apa yang dilakukan ibunya tersebut merupakan tontonan luar biasa. Di mana, sang ibu sibuk meracik bumbu serta bahan dan hasilnya masakan yang disajikan bagi seluruh anggota keluarga.

“Lama-lama si anak ini dapat menemukan value dari sebuah masakan. Bedanya dengan masakan yang dibeli, masakan buatan ibu jauh lebih berharga. Meski pun rasanya tidak jauh beda, namun perjuangan membeli bahan dan meracik bumbu sehingga dapat menghasilkan masakan itulah value yang dapat ditangkap sang anak,” ujarnya.

Dia lalau menjelaskan, ada lima aspek penting yang dibutuhkan anak supaya dapat tumbuh dan berkembang. Yaitu, aspek kemandirian, komunikasi, percaya diri, keingintahuan, dan interaksi.

“Tugas kita memfasilitasi dan mengarahkan mereka menemukan lima aspek itu, sehingga anak-anak dapat menjadi penerus bangsa Indonesia,” tegasnya. (wh)