Bu Risma, Kalau Unas Dapat Jelek Gimana?

 

Bu Risma, Kalau Unas Dapat Jelek Gimana?

Inspeksi mendadak (Sidak) Ujian Nasional SMP yang digelar Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini beserta Kepala Dinas Pendidikan, Muhammad Ikhsan ke 3 sekolah menengah pertama di kawasan Surabaya Barat, berjalan tertib. Meskipun rombongan datang dengan disambut kepala sekolah dan beberapa guru pengawas ujian, suasana tenang masih dapat dirasakan.

Tiba di sekolah pertama SMPN 28, Senin (5/5/2014), Risma bertemu dengan kepala sekolah, Drs Sumarlan, MPd. Para siswa tampaknya tak menyadari bahwa rombongan yang terdiri dari 4 mobil dinas tersebut membawa pejabat penting, termasuk Tri Rismaharini. Bahkan beberapa siswa khusyuk melakukan ibadah sholat Dhuha di masjid sekolah yang tak jauh dari gerbang pintu masuk.

Usai berbincang dengan dengan pihak sekolah, Risma berkeliling untuk mengecek kesiapan di lapangan dan menyapa para siswa. Entah malu atau grogi, mereka tampak terdiam saat melihat perempuan nomor satu di Kota Pahlawan itu berjalan mendekat. Ia lalu mencairkan suasana dengan menyapa para siswa yang belum diperbolehkan masuk ruang ujian tersebut.

“Ayo, alat tulisnya disiapkan. Dicek pensilnya sama nomornya,” ujar Risma sambil menepuk ringan pundak mereka. Satu per satu mereka lantas mencium tangannya.

Tak jauh berbeda dengan SMPN 28, para siswa di MTSN 2 pun tampak malu-malu. Mereka tampak menahan senyum saat mengantri mencium tangan Risma. Ia tak henti menanyakan kelengkapan alat tulis mereka.

“Kamu udah ngongoti (meruncingkan ujung pensil, Red) belum? Ojo ngongoti pas ujian lo, nanti waktumu habis,” kata Risma. “Sudah kok, bu,” sahut mereka kompak.

Risma kemudian membuka diri kepada para siswa untuk bertanya. “Mau tanya apa sama ibu?” ucapnya. Mereka saling melempar senyum, lalu menolak dengan halus. “Ndak bu, minta doanya aja biar sukses,” jawabnya. “Pastilah kalian sukses. Aamiin..” sahutnya.

Risma memotivasi mereka agar yakin dengan buah kerja kerasnya selama ini. “Anggap aja ini bukan Unas. Ini sama dengan ulangan biasa, hanya bedanya ini terakhir, nggak usah takut,” ujarnya. Ia pun meminta mereka agar tak perlu percaya adanya bocoran soal. “Nggak usah terpengaruh. Kalau ada yang ngomong macam-macam, nggak usah percaya. Nanti kalau ada masalah kalian bisa tersangkut ke kepolisian,” tukasnya.

Salah satu siswa lalu berceletuk. “Kalau dapat nilai jelek, gimana bu?” tanyanya dengan raut muka khawatir. Risma lantas menjawab dengan mantap. “Oh ndak apa-apa, ngapain takut. Ibu dulu juga nilainya nggak bagus-bagus amat kok. Kesempatan itu ada lagi nanti di SMA, bisa kamu perbaiki. Ibu yakin kalian pasti bisa,” ujarnya.

Kepada wartawan Risma mengatakan, ia tak pernah mematok target kepada para pelajar Surabaya untuk meraih nilai atau rangking tertentu. “Mereka nggak harus dengan kemampuan intelejensia. Talenta anak kan, macam-macam, mereka bisa mengembangkan motoriknya. Setiap anak bisa mengembangkan potensinya, mereka bisa jadi seniman, olahragawan, dan lain-lain sesuai minat mereka,” tukasnya.(wh)