Bu Nyai Lampung Belajar Merintis Bisnis di Diah Cookies

Bu Nyai Lampung Belajar Merintis Bisnis di Diah Cookies

Diah Arfianti membagi tips bisnis kepada Bu Nyai dari Ponpes RMI Lampung. foto: arya wiraraja/enciety.co

Puluhan Bu Nyai Pengasuh Pondok Pesantren Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU Lampung melakukan studi banding dan observasi ke Rumah Produksi Diah Cookies di Jalan Ketandan Baru Surabaya, Rabu (21/8/2019).

Diah Arfianti, owner Diah Cookies, membagi pengalaman merintis bisnis mulai dari nol. Dia mengaku mulai menjadi pelaku usaha sejak 2001. Waktu itu, ia jual kue basah dan kue kering. Harganya masih Rp 10 ribu per kemasan.

“Saya jualan untuk mengisi waktu luang. Namun, sekitar 2010, suami saya di PHK karena usahanya gulung tikar. Akhirnya, saya memberanikan diri untuk serius jualan kue kering sebagai mata pencaharian utama keluarga saya,” cetus Diah.

Diah lalu mengatakan, untuk masalah pemasaran ia mengaku sangat terbantu dengan keberadaan media sosial, tepatnya Facebook dan Instagram. Sekitar tahun 2007, Diah mulai aktif menawarkan produknya di media sosial. Pasar yang dibidik orang-orang terdekatnya.

“Saya pakai Facebook selain bisa silaturahim dengan kawan-kawan lama. Cara mengoperasikannya juga mudah. Saya bisa ketemu lagi dengan kawan TK saya, kawan SD saya. Alhamdulillah,” cetusnya.

Perempuan berjilnbab itu juga mengungkapkan, selain membuat produk yang pas, kesulitan memulai usaha lainnya adalah membangun pasar. Lewat cara yang dia lakukan tersebut, Diah mengaku punya banyak pelanggan setia.

“Pasar yang saya bangun memang orang-orang terdekat. Enaknya, dari situ saya dapat banyak masukan yang membangun. Karena kalau produk kita nggak enak dan dikritik, kita nggak malu,. Karena mereka itu teman-teman kita sendiri,” jelasnya, lantas tersenyum.

Setelah dari situ sambung Diah, ia memutuskan untuk memperluas pasar dengan meningkatkan kualitas produk dan meningkatkan jangkauan pasar. Saya sering posting di Facebook, akhirnya orang banyak tahu. Saya juga dibantu oleh langganan-langganan saya yang lama. Ya akhirnya bisa seperti sekarang ini,” tegasnya.

Diah menuturkan jika bisnis harus diawali dengan niat dan keberanian. “Berani melangkah itu yang penting dalam membangun usaha. Meskipun salah itu wajar. Saya berkali-kali rugi. Tapi dari pengalaman itu akan membuat kita makin berkembang,” pungkas Diah. (wh)