BRI Incar Akuisisi Bank Mutiara

BRI Incar Akuisisi Bank Mutiara

 

Rencana Pemerintah melepas Bank Mutiara mulai menarik minat calon investor. Salah satunya yang menyatakan ketertarikan adalah PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk.

“Kita masih melakukan hitung-hitungan,” ujar Direktur Keuangan BRI  Achmad Baiquni seusai RUPS Perseroan di Jakarta, Rabu (26/3/2014).

Selain mengincar Bank Mutiara, BRI juga tengah membidik sekuritas dan perusahaan asuransi.  Untuk akuisisi, BRI telah mengalokasikan dana Rp 3 triliun.

Baiquni mengungkapkan, alasan Bank Mutiara masuk bidikan akusisi pihak BRI  karena Bank Mutiara di tahun keenam dapat dibeli di bawah harga penyertaan modal sementara (PMS) yang mencapai Rp 7,9 triliun.

“Amat disayangkan jika kesempatan membeli Bank Mutiara dibawah harga PMS dilewatkan begitu saja,” ujarnya.

Baiquni juga mengatakan, pihak BRI mengaku tidak akan terlalu pusing jika nanti ada penawar lain yang ternyata menawar Bank Mutiara diatas Rp 3 triliun. Pasalnya,  dana yang sudah dialokasikan untuk aksi akusisi, sewaktu-waktu bisa saja ditambah untuk memenangkan penawaran.

“Semester awal tahun kan alokasi Rp 3 triliun. Tapi  itu bisa  kita tambah kalau diperlukan. Akhir Juni kan bisa revisi rencana kerja anggaran bank (RKAB),” ujarnya.

Terkait kapan waktu tawaran resmi dilakukan, Baiquni mengaku, hingga saat ini tim BRI masih melakukan kajian yang mendalam terkait berapa harga awal yang akan di tawarkan, termasuk resiko-resikonya kelak jika mengakusisi Bank Mutiara.

Sementara Dirut  BRI Sofyan Basyir membenarkan, pihak BRI saat ini memang menyediakan  dana segar Rp 3 triliun untuk melakukan aksi akusisi.

Dia  menyebut, secara garis besar ada tiga sektor industri keuangan yang masuk bidikan  akusisi, meliputi perusahaan asuransi, sekuritas dan perbankan.

“Dan salah satunya, ya memang Bank Mutiara yang masuk ke pertimbanghan kita untuk diakusisi. Kalau harga bagus kita akan coba (akusisi),” ujarnya.

Dalam melakukan akuisisi, pihaknya menyatakan  tidak akan tergesa-gesa (melakukan penawaran resmi). “Kami masih akan melakukan sejumlah kajian yang mendalam,” tambahnya.

Sementara itu, dalam RUPS, pemegang saham BRI menyetujui pembagian dividen payout ratio 30 persen  dari laba bersih tahun buku 2013 atau sekitar Rp 6,35 triliun.

Sisa laba bersih yang dihimpun, sebesar  21 persen  atau sekitar Rp 4,44 triliun akan digunakan sebagai cadangan yang bertujuan untuk mendukung investasi.

BRI menetapkan, sebesar 49 persen  dari laba atau sekitar Rp 10,37 triliun, akan menjadi laba ditahan. Seperti diketahui, tahun lalu BRI meraup laba bersih Rp 21,16 triliun.

“Besaran dividen payout ratio dan laba ditahan berdasarkan pertimbangan pentingnya perseroan melakukan ekspansi usaha dan kredit guna menangkap peluang BRI di segmen UMKM,” ujar Sofyan.(wh)