BRI  Bukukan Laba Bersih Rp 7,6 Triliun

bank BRI

Kinerja Bank Rakyat Indonesia (BRI) sepanjang 2015  cukup moncer. Bank yang miliki jaringan terluas di Indonesia ini,  membukukan laba bersih sebesar Rp 7,6 triliun. Dari jumlah itu, sebanyak 30 persen ditetapkan sebagai dividen.  “Sisanya, akan digunakan untuk laba ditahan perseroan,” kata Direktur Utama BRI Asmawi Syam saat rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) 2016 di Jakarta.

Menurut Asmawi, pembagian dividen sebesar itu tak terlepas dari kinerja BRI yang stabil tahun lalu. Mulai dari pertumbuhan kredit yang berkualitas, peningkatan fee based income, dan penaikan current account saving account atau dana murah. “Dividen juga dipengaruhi dari peningkatan IT performance, penerapan manajemen resiko dan GCG secara menyeluruh hingga terjaganya efisiensi operasional,” imbuhnya.

Peserta RUPST telah menyetujui dan mengesahkan laporan keuangan perseroan untuk tahun buku 2015. Selain itu, juuga disetujui pengalihan saham tresuri (treasury stock) untuk digunakan dalam program kepemilikan saham bagi manajemen dan pekerja perseroan.

Sebagai informasi, perseroan telah melakukan pembelian kembali (buy back) 221.718.000 lembar saham pada 12 Oktober 2015 hingga 12 Januari 2016. Hal ini sesuai dengan Peraturan OJK no. 02/POJK.04/2013.

Asmawi juga mengungkapkan, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) telah mencapai Rp 20,7 triliun hingga 21 Maret 2016. Adapun targetnya mencapai Rp 67,5 triliun. “Kalau dibandingkan target dengan perjalanan ini harusnya baru sampai Rp 16 triliun. Sehingga secara monthly sudah melebihi target,” katanya.

Menurutnya, pencapaian penyaluran KUR tersebut disebabkan sejumlah faktor. Diantaranya, penggunaan teknologi, perluasan agen penyalur KUR, dan penyediaan insentif buat pegawai yang bersedia kerja lembur. “Melibatkan anak pedagang pasar yang tahu persis kehidupan di lokasi pasar masing-masing. Sehingga memungkinkan adanya optimalisasi penyaluran KUR,” imbuhnya. “Para pekerja yang masih mau bekerja Sabtu-Minggu kami beri akomodsasi. Itu lah yang menyebabkan kenapa KUR BRI semestinya baru Rp 16 triliun, sekarang Rp 20,7 triliun.” (mrd)