BPS: Produksi Kedelai Jatim Diprediksi Turun 9,78 Ribu Ton

BPS: Produksi Kedelai Jatim Diprediksi Turun 9,78 Ribu Ton

Produksi kedelai di Provinsi Jatim tahun ini diprediksi menurun. Jika di 2014 lalu produksi kedelai mencapai 345,68 ribu ton biji kering maka di 2015 ini diprediksi minus 2,75 persen atau turun sekitar 9,78 ribu ton biji kering.

“Penurunan produksi ini disebabkan turunnya luas panen sebesar 7,78 ribu hektar atau minus 3,62 persen,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jatim M Sairi Hasbullah, dalam siaran presnya, Rabu (1/7/2015).

Di tahun lalu tercatat luas lahan kedelai mencapai 214,88 ribu hektar namun sekarang ini terkadi penyusutan menjadi 207,10 ribu hektar. Meski ada penyusutan lahan, namun dari sisi produktivitas masih mengalami peningkatan sebesar 0,15 kuintal/hetkar atau 0,91 persen dari 16,54 kuintal/hektar menjadi 16,69 kuintal/hektar.

Dari catatan BPS Jatim, penurunan produksi kedelai yang paling besar terjadi di Kabupaten Blitar mencapai 4,90 ribu ton biji kering atau turun 37,22 persen. Disusul Kabupaten Lamongan turun 1,317 ribu ton biji kering atau minus 5,779 persen dan Kabupaten Bojonegoro turun 891 ton biji kering atau minus 22,90 persen.

Sementara untuk kabupaten penyumbang terbesar peningkatan produksi kedelai adalah Kabupaten Banyuwangi naik 3,92 ribu ton biji kering atau naik 21,68 persen. Serta Kabupaten Bangkalan yang naik 3,48 ribu ton biji kering atau kenaikannya cukup tinggi mencapai 213,35 persen.

Selain itu Kabupaten Jember juga turut menyumbang kenaikan dengan produksi kedelai biji kering naik 542,44 persen atau naik 2,44 ribu tpn dan Kabupaten Sampang naik 2,298 ribu ton biji kering atau naik 11,63 persen.

“Selama ini faktor cuaca juga menjadi penyumbang naik tidaknya produktivitas kedelai,”terangnya.

Diakui, saat ini selain jumlah lahan kedelai yang menurun, para petani juga beralih ke komoditas lain yang dianggap lebih menjanjikan. Seperti menanam jagung maupun padi. Sebab selama ini untuk menanam kedelai dirasa membutuhkan ongkos produksi yang lebih tinggi dibandingkan menanam padi dan jagung. (wh)