BPS: Jumlah Penduduk Miskin Jatim 4,7 Juta

 

BPS: Jumlah Penduduk Miskin Jatim 4,7 Juta

Jumlah penduduk miskin di Jatim mencapai 4,7686 juta jiwa atau sekitar 12,42 persen dari total penduduk di Jatim. Jumlah tersebut sedikit berkurang dibanding pada September 2013 yang masih dikisaran 4,893 juta jiwa atau sekitar 12,73 persen dari total penduduk Jatim. Demikian rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur.

“Dari jumlah tersebut, wilayah pedesaan masih menjadi penyumbang terbesar karena 3,250 juta penduduk miskin berada di wilayah pedesaan atau sekitar 67 persen. Sementara sisanya yang mencapai 1,535 juta jiwa atau sekitar 32% berada di perkotaan,” ujar Kepala BPS Jatim Sairi Hasbullah di Surabaya, Selasa (1/7/2014).

Sementara berdasarkan hasil Susenas periode September 2013 hingga Maret 2014, garis kemiskinan mengalami kenaikan 3,3 persen atau sebesar Rp 9.038 per kapita per bulan. Jika sebelumnya garis kemiskinan berada di kisaran Rp 273.758 per kapita per bulan, maka pada Maret 2014 menjadi Rp 282.796 per kapita per bulan.

“Dan kenaikan garis kemiskinan ini cukup besar terjadi di pedesaan dibanding perkotaan. Garis kemiskinan pedesaan meningkat sebesar 3,39 persen sementara diperkotaan kenaikan hanya dikisaran 3,20 persen. Kenaikan ini dipicu oleh terjadinya kenaikan garis kemiskinan makanan yang mencapai 3,26 persen di pedesaan dan sebesar 3,11 persen di perkotaan serta kenaikan garis kemisninan non pangan yang mencapai 3,79 persen untuk pedesaan dan 3,45 persen untuk perkotaan,” ujar Sairi.

Adapun komoditas utama yang memberikan peran cukup besar terhadap garis kemiskinan adalah komoditas makanan yang berkontribusi sebesar 73,59 persen. Ada 5 komoditas yang secara presentase memberikan kontribusi yang cukup besar pada garis kemiskinan pangan, yaitu beras, rokok filter, gula pasir, tempe dan tahu. “Komposisi tersebut terjadi di semua wilayah, baik pedesaan maupun perkotaan,” tambahnya.

Sedangkan komoditas non makanan yang berkontribusi besar terhadap garis kemisninan untuk daerah perkotaan yaitu perumahan, bensin, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi. Sementara untuk daerah pedesaan meliputi perumahan, bensin, listrik, kayu bakar, dan pendidikan. (wh)