BPS Jatim: Belanja Lebaran Dorong Inflasi

BPS Jatim: Belanja Lebaran Dorong Inflasi
foto: merdeka.com

Beberapa barang kebutuhan rumah tangga mengalami kenaikan jelang Lebaran. Kondisi ini kontan menjadi penyumbang terbesar terjadinya inflasi di Jatim.

“Kelompok pengeluaran rumah tangga memberikan andil terbesar terhadap inflasi pada semester pertama lalu,” terang Kepala Bidang Statistik dan Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Satrio Wibowo, Jumat (10/7/2015).

Dari sektor pengeluran rumah tangga tersebut mengalami inflasi sebesar 8,07 persen atau menyumbang 1,26 poin terhadap total inflasi di Jatim. Dimana menjelang Idul Fitri di Jatim, untuk bahan makanan mengalami inflasi mencapai 0,92 persen. Hal ini memberikan andil sumbangan inflasi di Jatim sebesar 0,18 persen.

Untuk makanan jadi, minuman dan rokok juga terjadi inflasi 0,79 persen dengan andil terhadap inflasi mencapai 0,13 persen. Berikutnya adalah kelompok sandang terjadi inflasi 0,47 persen dengan sumbangan terhadap inflasi mencapai 0,03 persen.

“Pada Juni ini, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan hanya mengalami inflasi 0,12 persen, atau memberikan sumbangan 0,02 poin terhadap total inflasi Jatim sebesar 0,45 persen,” terangnya.

Sementara untuk kenaikan tarif angkutan menjelang Lebaran belum tampak adanya dampak. Hal itu diprediksi karena biasanya kenaikan tarif terjadi pada tujuh hari sebelum dan sesudah Lebaran.

“Dari catatan BPS Jatim selama enam tahun terakhir, menjelang Lebaran, inflasi tertinggi di Provinsi Jatim terjadi pada Juli 2013 yaitu sebesar 2,96 persen,” tegasnya.

Sedangkan komoditas utama penyumbang inflasi Jatim jelang Lebaran kali ini berdasrkan kelompok pengeluaran adalah daging ayam ras mencapai 0,07 persen, telur ayam ras 0,06 persen, buah apel, bensin dan gula pasir masing-masing 0,03 persen.

Sementara untuk komiditas utama kelompok transportasi, penyumbang inflasi adalah kenaikan harga bensin pertamax yang memberikan andil 0,03 persen, disusul kenaikan harga mobil 0,04 persen yang menyumbang inflasi 0,001 persen, dan bahan pelumas yang terjadi inflasi 0,14 persen dan menyumbang inflasi 0,0003 persen. (wh)