BPS: Inflasi Jatim Sebesar 0,85 Persen

BPS: Inflasi Jatim Sebesar 0,85 Persen
Kantor BPS Jatim

Badan Pusat Statistik ProvinsiJawa Timur mencatat, pada Desember 2015 Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,85 persen. Dari delapan kota IHK di Jawa Timur, semua kota mengalami inflasi. Kepala BPS Jawa Timur M Sairi Hasbullah mengatakan, jika inflasitertinggi terjadi di Kota Surabaya sebesar 0,94 persen, diikuti Kota Malang sebesar 0,89 persen, Kabupaten Banyuwangi sebesar 0,80persen, Kota Kediri sebesar 0,79 persen, Kabupaten Sumenep sebesar 0,77 persen, Kota Madiun sebesar 0,59 persen, Kota Probolinggo sebesar 0,41 persen.

“Inflasi terendah terjadi di Kabupaten Jember sebesar 0,39 persen,” tutur dia ketika di Kantor BPS Jatim Jalan Raya Kendangsari Industri No.43-44, Surabaya.

Dari tujuh kelompok pengeluaran, lima kelompok pengeluaran mengalami inflasi, satu kelompok pengeluaran mengalami deflasi, dan satu kelompok tidak mengalami perubahan. Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi adalah kelompok bahan makanan sebesar 2,94 persen.

“Diikuti kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau  sebesar 0,55 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,45 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,37 persen, dan kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,36 persen,” urai dia.

Lantas ia menjelaskan, terkait kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah kelompok sandang sebesar 0,42 persen dan kelompok pengeluaran yang tidak mengalami perubahan adalah kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga.

Dikatakan, komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi adalah bawang merah, telur ayam ras, cabai merah, daging ayam ras, pasir, angkutan udara, beras, tarif listrik, daging sapi, dan cabai rawit.

“Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya deflasi adalah emas perhiasan, bensin, laptop/notebook, minyak goreng, alpukat, tongkol pindang, pir, susu untuk balita, besi beton, dan apel,” ungkapnya.

Dari 6 ibukota provinsi di Pulau Jawa, ia menuturkan, jika semua kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Serang sebesar 1,13 persen, diikuti Kota Semarang sebesar 1,04 persen, Kota Yogyakarta sebesar 0,96 persen, Kota Surabaya sebesar 0,94 persen,Kota Bandung sebesar 0,78 persen, dan inflasi terendah terjadi di Kota Jakarta sebesar 0,72 persen.

Dari 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) nasional, semua kota mengalami inflasi. Lima kota yang mengalami inflasi tertinggi adalahMerauke sebesar 2,87 persen, Kupang sebesar 2,67 persen, Tual sebesar 2,37 persen, Sibolga sebesar 2,12 persen dan Manokwari sebesar 2,02 persen. “Sedangkan 5 kota yang mengalami inflasi terendah adalah Cirebon sebesar 0,27 persen, Jember dan Dumai masing-masing sebesar 0,39 persen, Probolinggo sebesar 0,41 persen, dan Watampone sebesar 0,47 persen,” papar dia.

Kusairi mengimbuhkan, bahwa laju inflasi tahun kalender Desember 2015 terhadap Desember 2014, Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 3,08 persen, angka ini lebih rendah dibanding inflasi tahun kalender Desember 2014 sebesar 7,77 persen.

Adapun sepuluh komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terhadap terjadinya inflasi sepanjang tahun 2015 adalah beras, tarif kereta api, daging ayam ras, tukang bukan mandor, akademi/perguruan tinggi, tarif listrik, rokok kretek filter, angkutan udara, bawang merah, dan bawang putih.

“Selain itu, ada sepuluh komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terhadap terjadinya deflasi sepanjang tahun 2015 adalah bensin, cabai rawit, cabai merah, minyak goreng, semen, angkutan dalam kota, batu bata/batu tela, solar, besi beton, dan emas perhiasan,” tandas dia.