BPS: Deflasi Februari 2015 Tertinggi Kedua selama 50 Tahun

BPS: Deflasi Februari 2015 Tertinggi Kedua selama 50 Tahun
foto:sindonews

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi deflasi pada Februari 2015 sebesar 0,36 persen merupakan yang tertinggi kedua dalam kurun waktu 50 tahun terakhir. ‎Deflasi tertinggi di Februari pertama kali berhasil diraih pada bulan kedua tahun 1985.

Demikian disampaikan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Sasmito Hadi Wibowo saat Konferensi Pers Inflasi Februari tahun ini di kantornya, Jakarta, Senin (3/2/2015).

“Ini deflasi kedua tertinggi selama 50 tahun terakhir, khusus di bulan Februari. Deflasi tertinggi pertama kali di Februari 1985 ‎sebesar 0,5 persen. Jadi deflasi 0,36 persen ini yang nomor dua,” kata dia.

Sasmito lalu menjelaskan, dalam 50 tahun terakhir, Indonesia mencapai 4 kali sampai 5 kali deflasi pada bulan Februari. “Artinya 4 kali atau 5 kali deflasi dalam 600 bulan. Ini sangat jarang terjadi,” tegasnya.

Dia merinci penyebab utama deflasi 0,36 persen di bulan kedua 2015, antara lain :

  1. Cabai merah dengan andil deflasi 0,28 persen, harga turun secara rata-rata nasional 39,66 persen. ‎Disebabkan pasokan melimpah dan distribusi lancar karena sduah memasuki masa panen. Terjadi penurunan harga di 80 kota IHK. Tertinggi penurunan di Merauke 65 persen dan Pangkal Pinang 63 persen
  1. Bensin andil deflasi 0,28 persen. Harga rata-rata nasional turun 7,13 persen di Februari dibanding Januari ini karena penurunan harga minyak dunia, dan kebijakan pemerintah untuk mengantisipisinya. Penurunan terjadi di seluruh kota IHK dengan kisaran penurunan 6 persen sampai 9 persen.
  1. ‎Cabai rawit turun 33,75 persen dengan andil 0,09 persen. Penurunan terjadi di 79 kota IHK. Merauke dan Pare-pare mengalami penurunan harga tertinggi masing-masing 70 persen dan 64 persen.
  1. Tarif angkutan dalam kota turun secara rata-rata 2,83 persen sehingga andil terhadap deflasi  0,04 persen. Karena menurunnya harga bahan bakar minyak (BBM) Premium dan Solar. Penurunan tertinggi di 30 kota IHK, yakni Palopo 30 persen dan Serang 29 persen.
  1. Harga daging ayam ras turun 2,28 persen, andil deflasinya 0,03 persen. Penurunan terjadi di 54 kota IHK, tertinggi di Tanjung Pandan atau Pulau Belitung 20 persen, Jambi 19 persen.
  1. Telur ayam ras mengalami penurunan harga 2,34 persen, andil deflasinya 0,0‎2 persen. Penurunan di 59 kota IHK, tertinggi di Banyuwangi 14 persen dan Mamuju, Banda Aceh, Sorong masing-masing 11 persen.

Penghambat deflasi

  1. ‎Harga beras mengalami kenaikan 2,88 persen andil inflasi 0,11 persen. Kenaikan harga terjadi di 60 kota IHK, tertinggi di Palopo 11 persen dan Bengkulu 10 persen.
  1. Tarif listrik naik 1,5 persen dengan andil inflasi 0,05 persen. Karena sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 31/2014, mulai Januari 2015 ada perubahan tarif dasar listrik untuk golongan rumah tangga ‎1.300 watt ke atas mengikuti taris mekanisme adjustment yang berlaku setiap bulan mengikuti perubahan kurs rupiah, harga BBM dan inflasi bulanan. ‎Kenaikan terjadi di 80 kota IHK, tertinggi di Pontianak 5 persen, Tarakan dan Batam tidak ada perubahan karena dikelola Pemda.
  1. Angkutan udara naik 7,2 persen, andilnya inflasi 0,04 persen, ini disebabkan peningkatan permintaan angkutan udara menjelang imlek. Kenaikan tertinggi 21 kota IHK, DKI Jakarta naik 24 persen dan Sibolga 17 persen.
  1. Sewa rumah naik 0,49 persen, andil inflasi 0,02 persen karena biaya perawatan rumah naik. Terjadi kenaikan di 19 kota IHK, tertinggi di Tangerang dan Palu masing-masing naik 3 persen dan 2 persen.
  1. Emas harga rata-rata  naik 1,56 persen, andil inflasinya 0,02 persen karena mengikuti harga emas dunia. Terjadi kenaikan di 75 kota IHK, yakni Bau-bau, Makassar, Samarinda dan Balikpapan masing-masing 4 persen.‎ (wh)