BPOM Harus Perketat Pengawasan Makanan Sehat

BPOM Harus Perketat Pengawasan Makanan Sehat

Jelang masa bulan Ramadan, memperkirakan akan banyak penjual makanan murah di Jawa Timur, terutama di Surabaya. Sayangnya makanan yang murah cenderung tidak sehat dan sangat rentan terhadap campuran zat berbahaya seperti formalin dan boraks.

“Makanan beredar murah dan mudah sehingga pengawasan sulit dilakukan. Apalagi banyak barang beredar belum tersertifikasi dan catatan registrasinya,” ungkap Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (8/5/2015).

Kresnayana mencatat, saat ini masih banyak perusahaan yang belum mendaftarkan produknya ke Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) maupun Dinas Kesehatan setempat.

“Saking mudahnya UKM (Usaha Kecil Menengah) berdiri membuat pemerintah kesulitan melakukan pengawasan,” tuturnya.

Justru yang terjadi para UKM, sambung dia, kebanyakan lebih sembrono dan tidak menjaga kebersihan dan kualitas makanan. Lagi-lagi, penyebab utamanya adalah persoalan murah, mudah, dan agar cepat laku.

“Intinya kita ingin memberi perlindungan masyarakat. Tidak dalam rangka mempersulit orang mencari usaha, tapi memandu untuk mereka agar lebih sehat,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Masyarakat BPOM Surabaya, Ratna Chatulistiyani, mengatakan banyak masyarakat yang tak memiliki pekerjaan tetap beralih menjadi pedagang makanan. Dengan bermodalkan sekadar bisa masak mereka mengadu peruntungan.

“Tapi jangan lupa untuk produk makanan harus diregistrasikan. Bisa melalui BPOM atau di dinas kesehatan setempat. Kalau melanggar ini ada sanksinya. Bahkan sampai masuk ranah pengadilan,” katanya.

Merujuk pada peraturan dari Kementerian Kesehatan kata Ratna, sanksi lain bagi yang melanggar bisa sampai penarikan produk. Tapi dilihatnya, banyak pedagang yang sengaja justru memproduksi makanan yang tidak bermutu. “Kalau terbukti bisa dipenjara maksimal 3 sampai 5 tahun,” tegasnya.

Untuk mencegah semua itu, BPOM Surabaya saat ini lebih intensif dengan melakukan pengujian sampel-sampel di pasar. Terutama di tempat-tempat umum yang jual makanan berbahaya seperti sekolah dan fasilitas umum lainnya.

Ternyata dari temuannya, kebanyakan pedagang yang tidak memenuhi syarat makanan sehat itu justru kebanyak yang dijual Pedagang Kaki Lima (PKL) di pinggir jalan. Banyak penjual yang memilih bahan makanan yang murah seperti zat pewarna, zat pengawet dan lain sebagainya.

Di satu sisi, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gappmi) Jawa Timur Yapto Willy menambahkan bahwa masyarakat memang harus diedukasi agar lebih peka untuk mengonsumsi makanan sehat. Untuk itu ia juga sengat berperan aktif untuk mengimbau pengusaha agar lebih sehat dalam berjualan.

“Kita tahu banyak PKL yang masih banyak yang mencuci ratusan piring di air satu ember. Ini harus kita edukasi bersama agar seluruh elemen masyarakat sadar,” pungkasnya. (wh)