BPM Optimistis Realisasi Investasi Naik 5 Persen pada 2016

BPM Optimistis Realisasi Investasi Naik 5 Persen pada 2016
Kepala BPM Jatim Lili Sholeh. foto:arya wiraraja/enciety.co

Pada tahun 2016, Badan Penanaman Modal (BPM) Jawa Timur memperkirakan realisasi investasi akan naik 5 persen. Peningkatan yang terbilang rendah ini disebabkan kondisi perekonomian dunia dan nasional masih lesu.

“Prediksi tersebut, kami rumuskan berdasarkan pada nilai investasi bidang Penanaman Modal Asing (PMA) yang masih di atas dari nilai investasi di bidang Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Perlu digarisbawahi, pada bidang PMDN, dibutuhkan bahan baku yang berasal dari luar negeri, inilah yang menyebabkan hal tersebut,” papar Kepala BPM Jawa Timur Lili Sholeh dikonfirmasi enciety.co, Rabu (18/11/2015).

Pada tahun 2015, BPM juga melihat jika bidang jasa, seperti jasa perdagangan, konstruksi dan pendidikan mengalami peningkatan. “Selain itu, di Provinsi Jawa Timur juga terjadi peningkatan di bidang pengolahan,” urai dia.

Lili juga menyoroti terkait bidang pertanian dan perkebunan. Kata dia, untuk mendandani bidang tersebut, sampai saat ini Provinsi Jawa Timur masih kesulitan. “Contohnya, untuk mengubah hasil panen berupa gabah untuk menjadi gabah siap giling, sampai saat ini kita masih kesulitan,” papar dia.

Selain kegiatan on farm ke off farm activities, masih memiliki permasalahan di bidang padat karya atau industri pabrik. Dalam kebijakan Pemerintah berupa Rencana Umum Penanaman Modal (RUPM), kedua bidang tersebut masuk skala prioritas pembenahan ke depan.

Selain itu, BPM juga mengupayakan ketersediaan bahan baku bagi para pelaku usaha. Contohnya, para pelaku usaha membutuhkan bahan baku pokok berupa jagung, pihaknya harus memastikan ketersediaannya dari dalam negeri. Caranya dengan mendatangkan jagung dari luar daerah melalui kerjasama antardaerah. Karena jika mendatangkan jagung dari luar negeri, atau impor, hal tersebut akan membebani biaya produksi.

Menurut Lili, ke depan, para pelaku usaha atau produsen harus terus melakukan percepatan dengan meningkatkan sumber daya manusia yang ada.

Bagi para pelaku usaha di bidang padat karya, selain meningkatkan kualitas produksi dari produk yang mereka hasilkan, mereka juga harus memperhatikan kualitas para pekerjanya dengan membuat semacam sistem sertifikasi.

“Dengan demikian, secara tidak langsung mereka telah meningkatkan kualitas perusahaan mereka,” pungkasnya. (wh)